Menjajal Moda Transportasi Jakarta

Jakarta – Harian Kompas hari ini (8/4/2012) memuat dan mengulas berita “Kelas Menengah: Mengejar Kereta” dan halaman 13 heading Kehidupan “Bersiasat Menembus Belantara Jakarta”. Berita ini menceritakan pengalaman masyarakat menggunakan moda transportasi di Jakarta sebagai alternatif transportasi berpergian yang efisien dan efektif terhadap kemacetan. Sebagian pengguna ini adalah kelas menengah (manager dan eksekutif) yang bekerja di Jakarta, tetapi tinggal di daerah “pinggiran” pemukiman baru, di luar Jakarta. Para pengguna ini tidak ingin menghabiskan waktu di jalan dan tekanan–seperti berebutan jalan dengan kendaraan lain, keserempet dengan kendaraan lain, dll.–selama dalam perjalanan karena kemacetan tetapi pada waktu bersamaan tetap melaksanakan kegiatan di kantor.

Continue reading

Konsolidasi Perkumpulan Senior Cabang Mamasa

Jakarta – Hari ini berjumpa dengan Pengurus “Perkumpulan” Cabang Mamasa di Jakarta. Pertemuan ini adalah tindak lanjut konsolidasi–pembentukan–cabang di kabupaten/kota setelah dideklarasikan di Makassar tahun 2010 dan Rakernas 2011.

Pada pertemuan itu yang antara lain dihadiri Victor Paotonan (Ketua), Yohanes dkk., dan dari Pengurus Nasional (Jeirry Sumampouw dan saya sendiri), berbagi perkembangan perkumpulan senior secara nasional dan cabang Mamasa. Diceritakan situasi terakhir yang sudah kondusif di Mamasa, setelah keputusan MA terhadap kepemimpinan di kabupaten tersebut.

Segera setelah SK kepengurusan diterima, konsolidasi segera dilaksanakan, antara lain melalui audiensi kepada Pimpinan Sinode Gereja Toraja Mamasa (GTJ) berkenaan dengan kehadiran para senior yang sudah terorganisasi di Mamasa, yang akan mengambil bagian di dalam kehidupan gereja dan masyarakat.

Kepengurusan ini difasilitasi oleh Jeirry Sumamampouw yang selalu membangun kontak dengan senior di Mamasa.

Dalam pertemuan ini, kami menyegarkan kembali motivasi kehadiran “perkumpulan” dan sistem organisasi yang hendak dibangun ke depan. Tiga motivasi dasar, yaitu membangun persekutuan, mengembangkan sharing of competence dan merevitalisasi keterlibatan senior di gereja, masyarakat dan bangsa. (***)

Konsultasi Pengurus Nasional Alumni-Alumni Cipayung dan Pimpinan MPR RI

Jakarta – Pada tanggal 9 Februari 2012, Pengurus Nasional Alumni-Alumni Cipayung bertemu dengan Pimpinan MPR mendiskusikan tentang kondisi kebangsaan dewasa ini. Alumni Cipayung menegaskan komitmen untuk mempertahankan dan memperjuangkan nilai kebangsaan sebagai mana dirumuskan dalam Deklarasi Cipayung pada tahun 2012. Nilai Kebangsaan dirangkum dalam 4 Pilar Kebangsaan, yaitu Ideologi Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Konstitusi (UUD 45) dan Bhineka Tunggal Ika.

Hadir dari Pimpinan MPR yaitu Taufik Kiemas (Ketua MPR), Hajriyanto Y. Thohari (Wakil Ketua MPR). Alumnni Cipayung terdiri dari 5 organisasi alumni (senior) dari Kelompok Cipayung, yaitu Senior GMKI, PA GMNI, Forkoma PMKRI, KAHMI, dan IKA PMII. Beberapa harian nasional memuat konsultasi ini, yaitu Harian Tabloid Seputar Indonesia (http://www.detiknews.com/read/2012/02/09/154322/1838593/10/taufiq-kiemas-kumpulkan-alumni-kelompok-cipayung?9911012#), Harian Kompas (halaman 4), DetikNews <http://www.detiknews.com/read/2012/02/09/154322/1838593/10/taufiq-kiemas-kumpulkan-alumni-kelompok-cipayung?9911012#> dan http://www.mpr.go.id/foto/read/2012/02/09/10281/pimpinan-mpr-ri-menerima-forum-alumni-kelompok-cipayung. (***)

Foto Civitas GMKI dan Senior pada Deklarasi Forum Alumni Cipayung pada tanggal 25 Jan 2012

image

Mengapa: Les Privat (Bimbingan Belajar)

Jakarta – Sistem pendidikan dewasa ini, siswa dituntut belajar mandiri. Waktu belajar di kelas (tatap muka) dengan guru sangat terbatas karena mata pelajaran begitu banyak dan buku pelajaran (silabus) juga sangat tebal. Belum lagi setiap mata pelajaran (referensi) memiliki beberapa buku juga.

Dalam tatap muka, guru hanya memaparkan pokok-pokok silabus. Kemudian mendorong siswa untuk mendalami di rumah dalam bentuk pekerjaan rumah (PR). Tidak jarang siswa mengalami kesulitan untuk mendalami. Ditambah “godaan” nonton TV, game online atau membuka situs jejaring sosial. Siswa mengalami tekanan dan berakhir pada penundaan pengerjaan “PR”. Besoknya sudah menanti pelajaran baru. Begitu seterusnya keadaan bila tidak upaya lain yang dilakukan orang tua.

Orang tua tidak bisa berbuat banyak membantu atau meringankan tekanan demikian. Pekerjaan di kantor menumpuk, waktu tempuh rumah-kantor yang lama; berangkat pagi, pulang malam. Waktu orang tua mendampingi anak belajar tidak cukup. Belum lagi bila pengetahuan orang tua juga pas-pasan. Metoda pengerjaan soal pada waktu dulu sekolah, sekarang beragam dan mengalami perubahan. Karena itu kesulitan dan tekanan kepada anak belajar(siswa) tidak banyak berubah.

Dalam situasi begitu, diperlukan bantuan dari “luar” yang dapat mendampingi anak belajar, sekaligus memberi solusi terhadap soal pelajaran yang tidak dimengerti. PR dan pendalaman materi dapat dikerjakan melalui bantuan ini.

Bantuan ini disebut les privat atau bimbingan belajar (disingkat bimbel/privat). (***)

Design a site like this with WordPress.com
Get started