Penataaan Kelembagaan UPKM Yakkum dan Unit Kerja

Solo – Disela-sela Lokakarya Standarisasi Akreditasi RS Sasaran Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs – Millenium Development Goals) di Semarang, kawan-kawan UPKM (usaha peningkatan kesehatan masyarakat) Unit RS yang hadir sebagai bagian dari  Kelompok Kerja (Pokja) sasaran itu, terdiri dari Ponek, TB, dan HIV-AIDS, terlibat pembicaraan serius tentang masa depan UPKM, yang sudah dibina selama ini. dan menjadi salah satu icon pelayanan kesehatan holistik yang dilaksanakan Yakkum beberapa dekade.

Icon ini dikenal dengan konsep Rumahsakit Tanpa Dinding (hospital without wall). Konsep ini dibangun berdasarkan kondisi kesehatan masyarakat yang tidak dapat “menjangkau” pelayanan di RS karena jarak (dari rumah pasien ke kota), prasarana dan prasarana yang belum memadai, biaya pengobatan, dan pelayanan di dalam RS yang belum “ramah” kepada pasien dari desa atau daerah terpencil.

Karena keterbatasan ini, telah mendorong RS (bersama tenaga kesehatan profesional) mendatangi desa. Secara proaktif, melaksanakan pelayanan kesehatan: memeriksa dan mengobati pasien ataupun merujuk ke RS yang memiliki peralatan kedokteran memadai dan tenaga kesehatan spesialis ataupun sub-spesialis. Pada perkembangan selanjutnya, di dalam konsep ini, tenaga kesehatan tidak hanya memeriksa dan mengobati pasien, tetapi juga melaksanakan upaya kesehatan lain, seperti pencegahan, promosi dan pendidikan dan rehabilitasi kesehatan.

Pendekatan yang dilakukan adalah berbasis masyarakat dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki masyarakat. Bila, misalnya dalam masyarakat, memiliki pengetahuan (kebijakan) lokal tentang pengobatan tradisional (ramuan jamu ataupun terapi pijat), dapat digunakan sebagai sarana pengobatan secara komprehensif dari perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran sekarang ini.

Yakkum berhasil melaksanakan dan mengembangkan konsep ini. Atas keberhasilan ini, Yakkum mendapatkan pengakuan dan penghargaan international, bahkan juga menjadi mitra lembaga internasional. Atas dasar ini, Yakkum membuat kebijakan agar seluruh unit kerja RS juga melaksanakan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Lembaga di dalam RS yang melaksanakan pelayanan ini adalah UPKM.

Pada perkembangan selanjutnya, sejalan dengan transformasi kepemimpinan dan manajerial Yakkum dan Unit Kerja RS, konsep dan pengembangan program UPKM mengalami gradasi. Beberapa unit RS, keberadaan UPKM ditempatkan sebagai bagian atau sub-ordinasi dari “marketing“, humas, ataupun pemantau tunggakan biaya perawatan pasien. Lama kelamaan, kegiatan UPKM semakin berkurang, tergantikan oleh tugas “tambahan” dari manajemen RS. Kalau dulu, kelembagaan UPKM langsung dibawah supervisi Direksi, sekarang menjadi sub-bagian dalam struktur organisasi RS.

Kenyataan ini dirisaukan kawan-kawan UPKM. Beberapa diantaranya pesimis terjadi perubahan untuk membalikan keadaan sebagaimana pada waktu UPKM ini “booming” beberapa dekade. Argumentasi yang menyertai pesimistis ini adalah bagi sebagian pimpinan, kegiatan UPKM adalah “cost” yang dalam manajemen modern, harus dikurangi atau dihilangkan dan dialihkan kepada kegiatan yang bisa mendatangkan pendapatan RS. Prinsip efisiensi menjadi pertimbangan utama untuk menjamin RS bisa kompetitif dalam era persaingan sekarang ini. Argumentasi lain, pendidikan dan orientasi dari sebagian alumni kedokteran dan tenaga kesehatan lain, juga mengalami pergeseran ke arah hedonis dan konsumtif. Berkunjung dan tinggal di desa bersama masyarakat, cukup menyita waktu, dan tidak memberi hasil banyak dari sisi materi.

Argumentasi ini tidak bisa dibantah. Ada benarnya. Tetapi yang tidak kalau penting adalah regulasi (kebijakan), pedoman dan panduan dari Pengurus Yayasan bahkan Pembina Yayasan sebagai pemegang otoritas Yayasan perlu juga penting juga menjadi perhatian ini. Selama ini hal-hal tersebut belum menjadi perhatian utama. Yayasan (bersama staf di Kantor Yakkum) terlalu sibuk memikirkan program, kemitraan dan penggalangan dana (fund raising), tetapi kurang pada hal-hal kelembagaan, sehingga ketika terjadi transformasi kepemimpinan dan manajerial, baik di Yayasan dan Unit Kerja, seolah kegiatan UPKM mulai dari awal lagi. Perlu dipikirkan dan menghindari fenomena dalam kurikulum pendidikan kita. Ganti menteri ganti kebijakan, ganti pimpinan ganti kebijakan tentang UPKM.

Kita berharap kesempatan perbaikan dan penataan pasti ada. Bisa digunakan pada Raker Ekstramural pada periode ini. Salah satu agenda yang perlu dibicarakan ini adalah penataan kelembagaan dan hal lain terkait. Dengan demikian generasi berikut pada transformasi mendatang tidak perlu mengungkapkan Qua Vadis UPKM. (***)

    • djojo dp
    • July 13th, 2015

    shaloom Bung Nefos,
    mendadak saya temukan ilustrasi sebagai berikut; jaman sekarang ‘perang’ tidak lagi menggunakan amunisi peluru versi militer, namun amunisinya adalah image yang diciptakan sehingga ‘mengkondisikan kebutuhan’, nah jika kita menggunakan amunisi lama sebagai pelayanan kesehatan melalui ‘peluru-peluru obat /klinis’, maka itu adalah kompetisi hi tech, dan itu kita akan kedodoran tertinggal jauh di alam pasar bebas ini. oleh karena itu versi ‘jemput bola’ melalui versi ‘rumah sakit tanpa dinding’ agaknya efisien dan efektif seperti iklan yamaha ‘ semakin didepan’, so; bagaimana-mengapa bisa jadi mungkin model ini diterapkan di yakkum ? mari kapan kita bertemu diskusi bersama-sama kawan extra mural, salam. djojo dp

    • danu
    • July 14th, 2015

    Setuju pak nefos, kita (UPKM) memang perlu duduk bareng dengan Pengurus Yakkum dan juga PUK untuk membicarakan akan dibawa kemana UPKM kedepannya, biar kegalauan teman-teman UPKM mendapat pencerahan.

    Tetap semangat.

    Danu (UPKM RS PWDC)

    • Mas Danu,
      Saya mencoba menerawang hehehe… UPKM dan Ekstramural ke depan, tinggal kenangan hehehe

  1. Mas Joyo dan Mas Danu, saya hanya meresume pembicaraan kawan-kawan di sela-sela lokakarya di Semarang. Resume sangat sederhana. Kita bisa kembangkan pada waktu rapat dilaksanakan. Kita berharap isu ini menjadi kepedulian bersama. Kita tidak mau nantinya ekstra mural ini menjadi ‘dinosaurus’ dalam perjalanan Yakkum dan unit-unit ke depan.

    • yoyok
    • December 1st, 2015

    Pagi Pak Nefos,

    memang, kegalauan dalam melakukan transformasi kepemimpinan tidak hanya terjadi di UPKM/ CD, tetapi dala ranah manejerial di unit, sehingga, leadership seed-nya tidak tumbuh dengan baik, saya agak kawatir dengan generasi angkatan 80-an ini, karena rasa memiliki terhadap lembaga agak menurun.

    pengamatan saya; saat ini yang sangat getol bekerja untuk pengembangan ekstramural dan pengembangan organisasi adalh beliau-beliau angkatan 50, 60, dan sebagian 70 an. di unit RSPR misalnya; saya bersama pak Bambang sudah merencanakan kaderisasi tenaga upkm dan kami sudah merencanakan selama satu tahun sebelum pak Bambang Pensiun, untuk rearisasi satu tenaga UPKM sangat sulit sekali, artinya apakah UPKM nantinya akna dianggap sebagai second layer? atau sebagai back bone dalam mengkomunikasikan pelayanan rumah sakit kepada masyarakat? ini menurut saya yang benar-benar harus dibuat blueprintnnya, sehingga siapapun yang akan masuk ke UPKM sudah meliaht rel yang harus dilalui dan jarak yang harus ditempuh serta melihat tantangan yang di hadapi.

    sharing saja:
    saya punya kawan di rumah sakit sosial sebelah, mereka-mereka mulai menggunakan cara-cara kita untuk melakukan advokasi kesehatan kepada masyarakat, melakukan pendekatan spiritual keagamaan, dari sini saya berpikir bahwa DNA rumah sakit tanpa dinding / ekstra mural ini sudah menjadi viral yang tidak bisa kita pakai sendiri, pertanyaannya: bagaimana DNA ekstramural ini bisa diREPLIKASI jika perlu dilakukan cloning kepada generasi selanjutnya. salam Yoyok

    • Mas Yoyok,
      Thanks respon terhadap tulisan pendek, tentang eksistensi UPKM (ekstramural) Yakkum. Saya lihat kondisinya “mati enggan, hidup tidak mau”. Kita terlalu sibuk untuk fund raising dan implementasi program, tetapi lupa merawat kelembagaannya, sehingga ketika pimpinan berganti, kebijakan berubah, kelembagaan juga mati suri hehehe.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: