Archive for the ‘ Kesehatan ’ Category

LAGI TENTANG UPKM DAN EKSTRAMURAL DI RS YAKKUM

Metro-Lampung — Saya tidak bisa membayangkan, apa konsep hospital without wall menjadi unggulan solusi pelayanan kesehatan kepada masyarakat dewasa ini?

Pertanyaan ini muncul, ketika kompetisi layanan RS sekarang begitu ketat dan kompleks, RS telah terjebak menjadi “industri” jasa layanan kesehatan. Dalam keadaan ini secara ekonomis, tidak ada ruang lagi bagi pelayanan kepada kesehatan berbasis masyarakat, yang salah satu nya melalui konsep hospital without wall, karena sering dianggap pelayanan sebagai pusat biaya (cost-centre). 

Semua layanan dalam industri ini, dihitung secara financial, dan ditimbang-timbang kepada hal-hal yang bisa memberi manfaat ekonomi bagi RS.

Terhadap pandangan ini, tentunya pertumbuhan pendapatan, khusus nya finansial, tidak salah. Karena dalam industri ini kebutuhan dana besar. Hanya saja, ketika RS memiliki paradigma demikian, menyisakan pertanyaan “dimana tempat kepada masyarakat yang terpinggirkan dan tersisih di dalam layanan RS, karena tidak memiliki akses, tidak bisa ‘bersaing’ karena informasi dan pengetahuan terbatas”.

Tetapi rupanya pertanyaan-pertanyaan ini, bisa didapatkan jawaban nya di RS Mardi Waluyo, Kota Metro, Lampung. RS ini melaksanakan konsep hospital without wall. Konsep ini menjadi unggulan (excellency) dan solusi pelayanan kesehatan masyarakat sebagai bagian integral pelayanan di dalam RS (yang disebut intramural) di daerah Lampung.

Tiga alat kelengkapan kelembagaan yang dirancang terhadap implementasi konsep ini, yaitu UPKM (usaha peningkatan kesehatan masyarakat), Humas (hubungan masyarakat), dan pastoral konseling. 

UPKM memiliki mandat dan area sendiri. Mandatnya adalah pengorganisasian masyarakat di sekitar RS, seperti tukang-becak, padagang kaki-lima, dll. Humas, mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan pemerintah (lokal) dan tokoh masyarakat dan gereja. Dan, Pastoral-Konseling, disamping layanan di dalam RS, tetapi juga pendampingan spiritual kepada masyarakat umum. 

    Untuk kegiatan yang lebih luas penjangkauan kesehatan masyarakat, RS ini membentuk gugus-tugas lintas-fungsi (cross  function) terdiri dari ketika alat kelengkapan ini: Humas, UPKM dan Pastoral-konseling

    Gugus tugas ini merekrut “Mitra” RS secara sukarela menjadi motivator dan kader kesehatan masyarakat. Para Mitra ini menjadi promotor kesehatan, pengkoordinasi serta penghubung dengan stakeholder lain (termasuk RS Mardi Waluyo) terhadap peningkatan kesehatan, termasuk hak-hak pasien.

    RS membantu secara administratif. Bila ada warga yang belum memiliki kartu JKN (Jaminan Kesehatan Masyarakat), RS menjadi penghubung ke BPJS setempat. Bila ada pasien yang ditunjuk, RS memiliki mobile-clinic membawa pasien; tidak harus ke RS Mardi Waluyo, tergantung keinginan pasien.

    Bila pasien dan keluarga kekurangan uang dalam proses perawatan yang tidak termasuk dalam JKN, RS membantu. Sumber keuangan untuk bantuan seperti ini diambil dari alokasi APB RS, kolektif karyawan dari kebaktian sekali seminggu, dan donatur.

    Disamping dukungan administrasi, manajemen RS mensosialisasikan paradigma layanan seperti ini kepada seluruh civitas hospitalia. Kalau ada karyawan: medis, paramedis dan non-medis diajak berkunjung ke desa dan bertemu masyarakat, mereka dengan senang hati mengambil bagian. Sebaliknya, tidak ada keluhan atau pertanyaan, jika ada karyawan dari ketiga gugus-tugas berkunjung ke desa, karena pelayanan Ekstramural adalah kegiatan RS.

    Mitra RS sekarang ini adalah sekitar 200 orang dari berbagai daerah di Provinsi Lampung. Hingga saat ini, Mitra yang paling jauh berada sekitar 200km dari Kota Metro. Secara rutin, sekali 3 bulan dilaksanakan pertemuan dengan Mitra. Pada pertemuan ini, Mitra dan Management RS berbagi progres dan tantangan yang dihadapi, serta mencari solusi praktis yang bisa dilaksanakan.

    Tidak ada benefit finansial yang diperoleh dari ke-relawan-an Mitra, selain kebanggaan melayani masyarakat dan menjadi bagian dari RS Mardi Waluyo.

    Paradoks dengan upaya ini, yang seolah-olah menjadi cost-centre dan tidak ada manfaat finansial, kinerja RS justru meningkat. Dalam perspektif manajemen modern, kegiatan Ekstramural ini adalah strategi marketing, yaitu membangun corporate image, customer loyalty dan memperluas area market. Penulis tidak tahu, kalau ini disadari atau dirancang demikian, tetapi terlepas dari itu, kegiatan Ekstramural ini justru memberi return bagus bagi RS. (***)

    Fasilitasi Lokakarya Penggalangan Dana Organisasi Rakyat

    image

    Solo – Kemarin dan hari ini, Yakkum memfasilitasi penyelenggaraan Workshop Penggalangan Dana (fund-raising). Kegiatan ini dilatar-belakangi harapan sustainability ORA – Organisasi Rakyat (CBOs – community based organization) terhadap layanan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Pada awalnya ORA ini adalah kelompok masyarakat yang sangat cair yang menjadi mitra Yakkum dan unit – unit UPKM (usaha peningkatan kesehatan masyarakat) di dalam melaksanakan kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat di desa-desa.

    Continue reading

    Hari Terakhir Kerja

    Jakarta – Hari ini adalah hari terakhir kerja tahun 2011. Semua karyawan dan staf libur Dan sekaligus menghabiskan cuti tahun 2011 bagi karyawan yang memiliki hak, yaitu satu tahun telah bekerja di Pelkesi. Bagi yang belum tetap masuk di luar waktu libur bersama.

    Continue reading

    Presentasi Proposal Penanggulangan TB

    Bogor – Direktorat TB Kemenkes RI sebagai authorized Principal Recipient Dana Hibah Global Fund (GF) mengajaka organisasi masyarakat sipil (civil society organization) mengambil bagian dalam penanggulangan TB di Indonesia.

    Kasus TB di Indonesia relatif tinggi yang berasosiasi dengan kemiskinan dan pendidikan rendah. Itulah sebabnya Global Fund mengambil bagian untuk menurunkan kasus ini, bersama dengan penyakit lainnya, yaitu malaria dan HIV AIDS. Tiga penyakit yang disupport pendanaannya untuk ditanggulangi dikenal dengan nama ATM (AIDS, TB dan Malaria).

    Continue reading

    Pindahan Sekretariat Nasional Pelkesi

    Jakarta – Dalam minggu ini pada bulan Oktober 2011, Sekretariat Pelkesi disibukkan dengan perpindahan tempat. Sejak Pelkesi dideklarasikan pada tahun 1983, Pelkesi menempati RS PGI Cikini sebagai sekretariat–pusat kegiatan administrasi dan koordinasi asosiasi lembaga dan pemerhati Kristen di bidang kesehatan.

    Akan tetapi pada ulang tahun ke-28 tahun kondisi itu tidak bisa dipertahankan. Pelkesi harus “keluar” dari RS PGI Cikini. Hal ini berkaitan dengan rencana pengembangan dan pembangunan RS PGI Cikini. Bangunan di ruangan tempat Sekretariat Pelkesi sekarang ini harus dirubuhkan. Rencana pengembangan itu dibangun di lokasi bangunan tersebut.

    Yang cukup “menyedihkan” adalah dalam master plan pembangunan itu, alokasi untuk sekretariat Pelkesi tidak ada lagi. Walaupun sudah dibahas berkali-kali dalam Sidang Pleno Badan Pengurus Pelkesi; juga lobby dengan PGI sebagai pembina Yayasan RS PGI Cikini, manajemen dan juga pengurus yayasan tetap kepada kebijakan yang tidak mengalokasikan ruangan untuk Pelkesi. Padahal kehadiran Pelkesi dalam kompleks itu adalah bagian pencitraan RS PGI Cikini sebagai rujukan dan kebanggaan RSK di Indonesia.

    Kemarin, tanggal 24 Oktober 2011, resmi karyawan dan staf Sekretariat mulai bekerja di RS UKI. Lokasi sekretariat, tepatnya di Asrama Mahasiswa Akademi Perawat RS UKI. Asrama ini disulap dari beberapa ruangan menjadi sekretariat. Fasilitas seadanya; ruangan untuk 200 m2, tinggal 80 m2, daya listrik baru diusahakan, dan jaringan telepon juga demikian. Situasi ini persis ketika awal-awal deklarasi Pelkesi di RS PGI Cikini.

    Kami tidak tahu berapa lama, sekretariat ini bertahan di tempat sekarang. Sebelumnya di dalam RS Cikini, perpindahan ruang sekretariat sudah 5 kali. Ada jaminan individual 2-3 tahun ke depan, selama periode kepemimpinan di RS ini berlangsung, tetapi mestinya belajar dari pengalaman sebelumnya, ketika kepemimpinan berganti, kebijakan berubah yang berimplikasi kepada sekretariat Pelkesi.

    Aku teringat paduan suara pada pembukaan Rakernas GMKI, dengan sangat baik menyanyikan “Berapa Lama Lagi Tuhan”?. Maksudnya sekretariat Pelkesi tidak pindah-pindah lagi, tidak digusur karena pergantian kepemimpinan di RS. (***)

    Design a site like this with WordPress.com
    Get started