Hari Terakhir Kerja

Jakarta – Hari ini adalah hari terakhir kerja tahun 2011. Semua karyawan dan staf libur Dan sekaligus menghabiskan cuti tahun 2011 bagi karyawan yang memiliki hak, yaitu satu tahun telah bekerja di Pelkesi. Bagi yang belum tetap masuk di luar waktu libur bersama.

Continue reading

Presentasi Proposal Penanggulangan TB

Bogor – Direktorat TB Kemenkes RI sebagai authorized Principal Recipient Dana Hibah Global Fund (GF) mengajaka organisasi masyarakat sipil (civil society organization) mengambil bagian dalam penanggulangan TB di Indonesia.

Kasus TB di Indonesia relatif tinggi yang berasosiasi dengan kemiskinan dan pendidikan rendah. Itulah sebabnya Global Fund mengambil bagian untuk menurunkan kasus ini, bersama dengan penyakit lainnya, yaitu malaria dan HIV AIDS. Tiga penyakit yang disupport pendanaannya untuk ditanggulangi dikenal dengan nama ATM (AIDS, TB dan Malaria).

Continue reading

Field Oversight Visit CCM di Sulawesi Tengah

image

Palu – Salah satu kegiatan Country Coordinating Mechanism (CCM)–yang dibentuk Indonesia dalam mengkoordinasikan dan memfasilitasi dana hibah dari Global Fund–adalah kunjungan ke daerah yang mendapatkan bantuan tersebut (FOV-Field Oversight Visit). Seluruh anggota CCM melaksanakan itu. Kami mendapatkan tugas di daerah Sulawesi Tengah dengan komposisi Tim yaitu Russell Vogel (USAID), Dr. Emil Tjitra (Balitbang Kemkes/TWG-technical working group Malaria), Masrul Huda (UIN Hidayatullah/TWG TB) dan Nefos Daeli (PGI/TWG AIDS).

Global Fund adalah lembaga internasional yang membantu pendanaan pemberantasan dan penanggulangan 3 penyakit ‘besar’ yang melanda negara berkembang, yaitu HIV AIDS, Malaria dan TB. Salah satu negara penerima dana tersebut adalah Indonesia. Untuk mengkoordinasikan pendanaan itu, pemerintah membentuk CCM, terdiri dari pemerintah (lintas departemen) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Untuk LSM terdiri dari organisasi dan komunitas: organisasi profesi, asosiasi, organisasi berbasis iman, komunitas penderita. Saya mewakili gereja di Indonesia (PGI).

Penerima dana hibah ini adalah pemerintah dan LSM atau organisasi kemasyarakatan. Penerima dana disebut Principals Recipient (PR). Struktur dibawahnya adalah Sub-Recipient (SR), Sub-sub-Recipient dan Unit Pelayanan (health facilities). Sekarang ini dana hibah ini telah berlangsung 10 putaran (round).

Di Palu, Tim mendapat kesempatan bertemu dengan Wakil Gubernur (Ketua Harian Komite Penanggulangan AIDS Provinsi), Kepala Dinas Kesehatan staf, khususnya pengelola dan pelaksana ketiga program di lapangan (provinsi dan kabupaten Donggala). Kami juga bertemu dengan Manajemen RS Undata yang mengkoordinasikan pelaksanaan Klinik VCT dan perawatan pasien AIDS. Komunitas masyarakat juga bertemu dengan Isaiah, NU, PKBI dan komunitas risiko tinggal di eks lokalisasi Tondo.

Kami mendapat kesempatan berdiskusi dan berupaya menunukkan solusi dari masalah dan hambatan yang diperlukan di lapangan. Secara umum pelaksanaan program ini berjalan baik dan mendapat respon dari pemerintah. Bahkan pemerintah (Provinsi dan Kabupaten) menyisihkan sebagian APBD untuk membantu pendanaan program ini untuk lokasi atau item kegiatan yang belum terjangkau. Akan tetapi karena APBD sangat rendah dibandingakan daerah lain, terasa bahwa tiba program masih sangat terbatas. Sebagai contoh untuk klinik VCT hanya ada di Donggala dan Palu. Perawatan dan rujukan ARV hanya ada di RS Undata (Palu), padahal daerah ini memiliki wilayah yang sangat luas. Fasilitasi dan infrastruktur sangat terbatas. Untuk daerah tertentu menuju ke Palu harus ditempuh dalam 1-2 hari. Tentunya upaya pengobatan dan perawatan sangat terlambat. Peru juga diapresiasi respon masyarakat sangat tinggi. Untuk Pos Malaria Desa (posmaldes) dengan kegiatan pembagian kelambu sangat dibantu ole masyarakat. Mereka sangat merasakan kelambu itu. Kasus penyakit malaria menurun tajam. (***)

Lokakarya Tips dan Tricks Masuk Dunia Kerja untuk Anggota GMKI

Jakarta – Pada hari Jumat, 1 Juli 2011 yang lalu, diselenggarakan Lokakarya Tips dan Tricks Masuk dunia kerja di Hotel Blue Sky Jakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Perkumpulan Senior GMKI memfasilitasi anggota GMKI masuk dunia kerja. Dengan itu pula, bisa juga menjadi model untuk membangun hubungan dan posisi hubungan kelembagaan Senior dan GMKI.

Dalam beberapa pembicaraan disimpulkan, output GMKI, termasuk senior–anggota yang dua tahun telah menyelesaikan kuliah selama–belum siap memasuki dunia kerja yang nyata. Bahkan tidak jarang gagal seleksi pada tahap awal. Kendala utama pada seleksi tahap awal, yaitu administrasi (index prestasi), menulis surat lamaran, wawancara dan tes psikologi. Ini tahap yang krusial.

Saya percaya bahwa anggota (senior) GMKI, yang bila telah diterima pada suatu institusi atau perusahaan bisa “bersaing” dengan karyawan lain. Bahkan dalam banyak kasus, anggota GMKI cukup menonjol. Karena pada waktu aktif di GMKI telah ditempa dengan berbagai faktor: insight (spiritualitas), kepemimpinan, ketrampilan manajerial, problem solving, dll. Bahkan kemampuan bertahan dalam kondisi susah dan semangat berjuang, sudah didapatkan ketika aktif di GMKI. Istilah atau sebutan untuk kemampun dan karakter seperti ini adalah complementary university.

Akan tetapi bila menggunakan persyaratan atau indikator rekrutmen adalah IP (index prestasi) dan bahasa Inggiris, tidak jarang anggota keteteran. Kemampuan membagi waktu antara intra kurikuler dan esktra kurikuler, menyebabkan banyak anggota GMKI memiliki IP sedang (moderate) dalam skala 0-4.

Karena itu disamping memperbaiki upaya memenuhi persyaratan seleksi (IP dan bahasa Inggiris), ada baiknya bila anggota juga dibekali dengan tips dan tricks bila “bertarung” dalam seleksi masuk dunia kerja. Lokakarya ini dimaksudkan untuk itu. (***)

Pindahan Sekretariat Nasional Pelkesi

Jakarta – Dalam minggu ini pada bulan Oktober 2011, Sekretariat Pelkesi disibukkan dengan perpindahan tempat. Sejak Pelkesi dideklarasikan pada tahun 1983, Pelkesi menempati RS PGI Cikini sebagai sekretariat–pusat kegiatan administrasi dan koordinasi asosiasi lembaga dan pemerhati Kristen di bidang kesehatan.

Akan tetapi pada ulang tahun ke-28 tahun kondisi itu tidak bisa dipertahankan. Pelkesi harus “keluar” dari RS PGI Cikini. Hal ini berkaitan dengan rencana pengembangan dan pembangunan RS PGI Cikini. Bangunan di ruangan tempat Sekretariat Pelkesi sekarang ini harus dirubuhkan. Rencana pengembangan itu dibangun di lokasi bangunan tersebut.

Yang cukup “menyedihkan” adalah dalam master plan pembangunan itu, alokasi untuk sekretariat Pelkesi tidak ada lagi. Walaupun sudah dibahas berkali-kali dalam Sidang Pleno Badan Pengurus Pelkesi; juga lobby dengan PGI sebagai pembina Yayasan RS PGI Cikini, manajemen dan juga pengurus yayasan tetap kepada kebijakan yang tidak mengalokasikan ruangan untuk Pelkesi. Padahal kehadiran Pelkesi dalam kompleks itu adalah bagian pencitraan RS PGI Cikini sebagai rujukan dan kebanggaan RSK di Indonesia.

Kemarin, tanggal 24 Oktober 2011, resmi karyawan dan staf Sekretariat mulai bekerja di RS UKI. Lokasi sekretariat, tepatnya di Asrama Mahasiswa Akademi Perawat RS UKI. Asrama ini disulap dari beberapa ruangan menjadi sekretariat. Fasilitas seadanya; ruangan untuk 200 m2, tinggal 80 m2, daya listrik baru diusahakan, dan jaringan telepon juga demikian. Situasi ini persis ketika awal-awal deklarasi Pelkesi di RS PGI Cikini.

Kami tidak tahu berapa lama, sekretariat ini bertahan di tempat sekarang. Sebelumnya di dalam RS Cikini, perpindahan ruang sekretariat sudah 5 kali. Ada jaminan individual 2-3 tahun ke depan, selama periode kepemimpinan di RS ini berlangsung, tetapi mestinya belajar dari pengalaman sebelumnya, ketika kepemimpinan berganti, kebijakan berubah yang berimplikasi kepada sekretariat Pelkesi.

Aku teringat paduan suara pada pembukaan Rakernas GMKI, dengan sangat baik menyanyikan “Berapa Lama Lagi Tuhan”?. Maksudnya sekretariat Pelkesi tidak pindah-pindah lagi, tidak digusur karena pergantian kepemimpinan di RS. (***)

Design a site like this with WordPress.com
Get started