Sistem, Bukan Individu
Jakarta – Untuk menata dan mengembangkan lembaga menjadi organisasi modern, penataan sistem menjadi keharusan. Sistem yang tertata baik, organisasi dapat bertahan terhadap perubahan lingkungan organisasi, baik internal maupun eksternal.
Sebaliknya kalau disandarkan kepada individu, organisasi sangat mudah rapuh. Memang betul, pada periode tertentu, dengan ketokohan dan “kebaikan” individu, harapan untuk pengembangan organisasi dapat diwujudkan, apalagi untuk organisasi yang masih “muda”. Akan tetapi ketika ketokohan itu memudar–yang tentunya terjadi secara alamiah–atau terjadi pergantian ketokohan (pemimpin), harapan pengembangan menjadi kontra-produktif.
Dengan individu, juga rentan kepada intervensi- kepentingan dan subyektivitas. Bila ada perbedaan pendapat, yang melibatkan tokoh, unsur subyektifitas tidak dapat dielakkan. Pelampiasan subyektifitas diarahkan kepada organisasi, walau diungkap dengan segala macam pembenaran dan rasionalitas. Hal-hal yang sudah dibangun dengan baik, kemungkinan kembali pada keadaan mula-mula bisa saja terjadi. Kemandirian organisasi karena ketiadaan sistem, menimbulkan ketergantungan.
Karena itu, untuk membangun organisasi secara modern: akuntabel, transparan, dapat dipercaya, sistem itu sangat penting dan strategis. Inilah yang menjadi acuan dan pedoman bersama. Era sekarang adalah transformasi melalui sistem, bukan ketergantungan individual. (***)

