Tiga Event Bulan September Berlangsung Sukses

Solo – Pada bulan September yang lalu, tiga event besar yang dikoordinasikan penulis sebagai Ketua Panitia Pengarah (SC-steering committee) berlangsung sukses. Masing-masing dari ketiga event tersebut berlangsung hampir setiap minggu pada bulan tersebut. Butuh pengorganisasian sumber daya yang efisien, kerjasama tim yang solid dan jejaring yang kuat.

1. Sarasehan Pariwisata dan Atraksi Budaya Nias

Group Tari Yaahowu

Kelompok Tari Yaahowu Sebelum Beraksi

Event ini adalah upaya dan fasilitasi yang dikoordinasikan Masyarakat Jateng-DIY, yaitu Ikatan Keluarga Nias (IKN) Yogyakarta, Ikatan Keluarga Ono Niha (IKAONI) Salatiga, Orudua Nono Niha Surakarta (ONIS) Surakarta dan Permufakatan Masyarakat Ono Niha (FAMONI) Semarang serta komunitas Nias di berbagai kota di Jawa Tengah, untuk mengkaji peluang dan tantangan Sektor Pariwisata menjadi lokomotif pembangunan di Kepulauan Nias. Hingga saat ini, belum dirumuskan sektor unggulan sebagai lokomotif pembangunan selama ini di Kepulauan Nias, potensi obyek wisata sebagai daya tarik wisatawan berkunjung sangat beragam dan popular, baik lokal, nasional dan internasional, dan sektor pariwisata berhasil menjadi urutan ketiga penghasil devisa negara secara nasional, selain minyak dan gas bumi, dan kelapa sawit.

Disamping mengkaji tetapi juga dalam Sarasehan ini, diharapkan komitmen dan kesepakatan dalam bentuk pernyataan bersama dalam pengembangan pariwisata itu ke depan, ke dalam bentuk program aksi dan alokasi anggaran dari APBD di masing-masing daerah kabupaten/kota. Untuk itu sarasehan ini mengundang kepala daerah, para SKPD terkait, Pimpinan DPRD daerah (dan Komisi yang membidangi pariwisata, budaya, pendidikan) dan Wakil Menteri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada saat itu. Panitia juga mengundang Walikota Surakarta dan jajaran terkait untuk hadir dan berbagi pengalama selama ini di dalam pengembangan pariwisata di Kota Solo.

Peserta Menyimak Presentasi Narasumber Sarasehan

Peserta Menyimak Presentasi Narasumber Sarasehan

Sarasehan ini dilaksanakan pada tanggal 7 September 2013 di Hotel Novotel Solo, dihadiri oleh para Bupati/Walikota dari Kepulauan Nias, kecuali Bupati Nias Selatan yang berhalangan hadir, Pimpinan DPRD dan Komisi yang membidangi sektor terkait, Staf Khusus Wakil Menteri Parekraf (mewakili Wakil Menteri yang berhalangan hadir), Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo (mewakili Walikota Surakarta), masyarakat Nias (dan mahasiswa) di Jateng-DIY dan Jawa Timur. Pada keesokan harinya, tanggal 8 September 2013 diselenggarakan Atraksi Budaya Nias di Taman Sriwedari Solo di hadapan publik masyarakat Solo bertepatan dengan Car Free Day.

2. Musyawarah Nasional (Munas VIII) Pelkesi

Event ini dilaksanakan di Palangkaraya Kalimantan Tengah pada tanggal 17-19 September 2013. Ini baru pertama kali dilaksanakan di Pulau Kalimantan, kegiatan Pelkesi dalam skala nasional. Pelaksanaan Munas di-endorse pada Munas sebelumnya di Medan tahun 2008, sebagai salah satu upaya mengembangkan atau menggetarkan pengaruh Pelkesi dalam pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.

Acara Pembukaan Munas di Hotel Swissbell Hotel Danum Palangkaraya

Acara Pembukaan Munas di Hotel Swissbell Hotel Danum Palangkaraya

Munas merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi lembaga persekutuan ini, dilaksanakan sekali dalam 5 tahun. Pada forum ini dibahas kondisi lembaga 5 tahun lalu, didiskusikan keadaan sekarang, dan mengatur langkah (kebijakan) untuk “perjalanan” selanjutnya. Unit kerja Pelkesi sebagai anggota di seluruh tanah air, dan para pendiri, serta pemerhati masalah-masalah kesehatan mengambil bagian dalam perhelatan ini. Dukungan dari pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Tengah sangat membantu dalam memeriahkan acara ini.

Tempat (venue) Munas dilaksanakan di Hotel Swissbell Danum di Kota Palangkaraya. Ini kali ketiga, tempat kegiatan di hotel. Sebelumnya pada Munas di Yogyakarta tahun 2003, yaitu di Hotel Sahid, kemudian di Medan tahun 2008 di Hotel Grand Antares. Pada Munas-munas sebelum itu, dilaksanakan di convention hall milik gereja, sedangkan peserta tinggal di rumah-rumah jemaat sebagai tuan dan nyonya rumah. Dukungan dari pemda pada penyelenggaraan Munas ini adalah kali yang kedua, sebelumnya adalah pada Munas di Medan, yang mendapat bantuan dari Provinsi Sumatera Utara. Pada Munas-munas sebelumnya, acara Munas dilaksanakan secara mandiri dari kontribusi unit kerja dan peserta.

3. Temu Senior GMKI Yogyakarta

Foto Bersama Menjelang Acara Berakhir

Foto Bersama Menjelang Acara Berakhir

Temu senior GMKI ini adalah kali yang ke-empat dalam 2 tahun ini. Pertemuan pertama adalah di Kaliurang Yogyakarta, dilanjutkan pertemuan berturut-turut di Jakarta, yaitu di Aula PGI Jl. Salemba Raya Jakarta, dan di Hotel Lumire Atrium Senin Jakarta. Pertemuan ini disamping melepas kangen setelah puluhan tahun tidak berjumpa, tetapi juga merefleksikan “jejak spiritual” ketika berlatih dan membentuk diri di GMKI Yogyakarta sebagai kader pemimpin dan penggerak di gereja, bangsa dan negara. Dalam refleksi ini para senior memperkokoh ikatan yang sudah dibangun, yaitu spiritual, emosional, kultural, dan historis. Dalam ikatan demikian, walau berbeda generasi, profesi dan tempat, tetapi tetap dalam ikatan-ikatan tersebut.

Dari keempat Temu Senior ini, sebagian besar para peserta tidak sama. Yang datang pada pertemuan sebelumnya, sebagian besar tidak bisa hadir pada pertemuan berikutnya. Itu bukan disengaja, tetapi karena ketidak-sesuain waktu dengan kesibukan masing-masing, walau sudah diinformasikan jauh-jauh hari.

Para Senior Melepas Kangen Se-angkatan

Para Senior Melepas Kangen Se-angkatan

Walaupun demikian “benang-biru” dari setiap pertemuan selalu ada, dan berkesinambungan. Hasil masing-masing pertemuan selalu di update dan dishare kepada semua senior menggunakan media-sosial yang familiar dengan para senior. Secara khusus pada Temu kali, salah satu topik yang dibahas adalah pemanfaatan dan pengembangan tanah dan bangunan Wisma Imanuel, sebagai Pusat Kegiatan Mahasiswa (student centre). Setelah proses pengurusan kepemilikan tanah selesai, para senior mulai menggumuli pemanfaatan gedung tersebut ke depan. Untuk isu ini disepakati, untuk jangka pendeka, dengan sarana yang ada didorong agar dimanfaatkan secara optimal dan sambil berjalan dilakukan pemeliharaan kecil-kecilan. Untuk jangka menengah dan panjang, dibentuk Tim yang menyusun pengembangan student centre untuk jangkan waktu 10-20 tahun mendatang. Hal ini dimaksudkan agar pengembangannya dilakukan secara komprehensif, yang antara lain harus memiliki keterkaitan sejarah, khususnya motivasi awal didirikan Wisma ini pada tahun 60-an. (***)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: