Pernik Atraksi Budaya Nias di Solo

Image

Alat Musik Tradisional Mengiringi Tari Budaya

Solo – Akhirnya pertunjukan budaya Nias berhasil dilaksanakan pada hari Minggu, 8 Mei 2013 di Plaza Sriwedari Solo. Pertunjukan ini mengambil momen Car Free Day (CFD) pada setiap hari Minggu, memberikan kesempatan kepada publik Solo dan sekitarnya menikmati atraksi budaya secara gratis.

Atraksi ini merupakan rangkaian kegiatan Sarasehan yang diselenggarakan Komunitas Nias di Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta (Jateng-DIY), yang mengusung tema “Membangun Kepulauan Nias Menjadi Daerah Tujuan Utama Wisata Kawasan Barat Indonesia”.

Atraksi budaya merupakan salah satu obyek wisata, yang selalu menarik perhatian para wisatawan, apalagi kalau obyek itu spesifik dan unik. Umumnya publik hanya menonton atraksi budaya Nias yang ditampilkan ini melalui media TV dan sesekali media cetak. Pertunjukan seperti ini disamping di Pulau Nias, tetapi juga di Kota Medan Sumatera Utara dan di Jakarta. Sebelumnya pernah dipentaskan di Salatiga dan Yogyakarta, tetapi belum terlalu lengkap dan sequences yang tertata. Baru kali ini pertunjukan ini lebih meriah dan membuat “heboh”.

Crew berpose sebelum Beraksi

Crew berpose sebelum Beraksi

Dalam disian awal, atraksi budaya ini tidak termasuk dalam serangkaian kegiatan Sarasehan. Akan tetapi dukungan dari Pemerintah Daerah/Kota se Kepulauan Nias, dan kesediaan dan semangat mahasiswa dari Ikatan Keluarga Ono Niha (IKAONI) Salatiga, akhirnya diputuskan atraksi ini ditampilkan dan menjadi rangkaian kegiatan Sarasehan. Persoalan timbul, ketika jumlah mahasiswa dari Salatiga tidak cukup, akhirnya dalam perkembangan selanjutnya juga dilibatkan mahasiswa dari Semarang dan Yogyakarta. Dengan jumlah yang “crew” yang banyak, menjadikan atraksi ini kelihatan akbar.

Persoalan seakan belum selesai, peralatan dan perlengkapan atraksi, seperti kostum, perisai (baluse), tombak (toho) dan asesoris lain, tidak mencukupi. Panitia mencoba menghubungi organisasi masyarakat Nias di Jakarta, yang biasa menampilkan atraksi seperti ini, tidak bisa karena sedang digunakan untuk latihan untuk pementasan yang sama di tempat lain. Akhirnya dengan dengan kerja keras dan menghubungi beberapa orang “tukang-kayu” untuk bersama-sama mengerjakan perlengkapan tersebut. Hasilnya sangat memuaskan. Lompat batu, Tari Baluse dan Tari Yaahowu, mengundang decak-kagum masyarakat yang lalu-lalang pada acara Car Free Day.

Advis Pemko Solo yang menyediakan tempat di Plaza Taman Sriwedari, sangat tepat, karena panggung telah tersedia dan memiliki ruang terbuka yang bisa diisi oleh seluruh “crew” untuk menunjukan keahlian beratraksi. Panggung ini tidak menggangu pemakai jalan pada CFD, bahkan bisa menampung para “penonton”. Ini adalah hasil dari kerja keras yang luar biasa. (***)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: