Merancang Harus Konseptual: Deduktif dan Induktif

Jakarta – Dua kerangka atau model berpikir di dalam merancang suatu event–apalagi event yang menghasilkan kebijakan atau keputusan strategis–yaitu deduksi dan induksi. Di dalam model deduktif, hal-hal yang umum (konseptual) di breakdown atau di elaborasi ke hal-hal yang spesifik. Sedangkan model induksi adalah sebaliknya. Model kerangka berpikir itu penting agar percakapan dan diskusi lebih terarah, efektif dan efisien.

Di dalam berpikir secara deduktif, disain event dimulai dari tema dan sub tema event, baru dielaborasi ke dalam bentuk kegiatan, sarana pendukung, sumber daya yang diperlukan dan peserta yang terlibat. Tanpa pemikiran demikian, event bergerak tanpa arah, dan kelihatan parsial. Keutuhan pemikiran terhadap event tersebut kelihatan dalam tema dan sub tema tersebut.

Memang untuk membantu percakapan menuju kepada tema dan sub tema itu, diskusi dan penggalian kasus dan masalah serta harapan yang mungkin sepotong-sepotong diperlukan (induksi). Akan tetapi tidak berhenti disitu. Harus ditarik “ke atas” yang memayungi seluruh event tersebut. Itulah tema dan sub tema.

Interaksi kerangka berpikir deduktif dan induktif itu sangat penting bagi peserta yang terlibat dalam percakapan rancangan tersebut. Dan lebih merepotkan lagi, bila para peserta tidak peduli terhadap kerangka berpikir itu, apalagi kalau ngotot bahwa model yang satu tidak penting.

Kerangka ini menjadi penting dan strategis, ketika arah yang diharapkan dari event tersebut adalah kebijakan dan keputusan strategis, baik itu durasi waktu yang panjang maupun berkaitan dengan eksistensi organisasi yang melibatkan kepentingan banyak pihak. Bila tidak ada tema dan sub tema, keputusan dan strategi yang diambil akan sepotong-sepotong yang pada akhirnya elaborasi kepada prioritas dan kegiatan yang dilaksanakan dalam kurun waktu itu juga mengalami kesulitan. Kegiatan yang dilaksanakan sekedar berjalan saja, tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi yang mencerminkan tema dan sub tema tersebut.

Disain itu dimulai dari pemahaman terhadap visi dan misi organisasi serta capaian dalam kurun waktu tertentu. Tidak lupa juga dianalisis kondisi yang dihadapi organisasi (internal dan eksternal). Karena event ini adalah merancang capaian baru dari organisasi. Dengan demikian, keputusan dan kebijakan yang diambil adalah kontinuitas dari proses sebelumnya. Mudah-mudahan pemahaman ini menjadi acuan bersama. ***

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: