Jalan Hidup Tidak Ada Yang Mampu Prediksi

Solo – Jalan dan sejarah hidup seseorang dan juga lembaga atau lembaga mampu diprediksi dengan baik. Banyak kejadian di sekeliling kita, sepertinya terjadi secara tiba-tiba. Keputusan menyikapi kejadian tersebut, menentukan arah perjalanan hidup. Robohnya Tembok Berlin, runtuhnya Sovyet Uni, runtuhnya regim Orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto, dan lain-lain telah merubah sejarah dunia. Akan tetapi kejadian yang membawa kepada perubahan itu tidak ada yang dapat memprediksi dengan tepat. Diketahui bahwa sebelum kejadian tersebut, para regim ini begitu kokoh, dan sudah mengakar puluhan tahun. Tidak ada yang bisa membayangkan bahwa ke-kokoh-an itu bubar begitu cepat.

Demikian juga dalam kehidupan individu dan keluarga. Naiknya Soeharto ke tampuk kepemimpinan nasional, yang ditandai sebagai era Orde Baru, hanya karena “lembaran Supersemar”. Semuanya menjadi berubah. Soeharto bukanlah satu-satunya pemegang kunci TNI AD pada waktu itu. Disitu ada Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Haris Nasution. Soeharto hanya berpangkat bintang tiga, tetapi kepadanya diberikan mandat melalui “lembaran” itu. Kejadian Supersemar ini, membawa perubahan kepada jalan hidup Soeharto dan bangsa Indonesia. Demikian juga dalam diri Soekarno, yang semua mengetahui begitu “berkuasa” pada saat itu, tetapi kejadian itu merubah segalanya. Regim Soekarno pun jatuh.

Banyak hal yang terjadi di sekitar kita, yang berubah begitu cepat, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Perubahan itu kadang, bahkan mungkin sering tidak dapat dikendalikan dan diidentifikasi sebelumnya. Semuanya terjadi begitu saja dan tiba-tiba sifatnya. Bila mampu direspon dengan tepat, akan memberikan dampak yang besar bagi perubahan, tidak hanya dengan diri sendiri tetapi juga terhadap perubahan itu. Akan tetapi diketahui juga, tidak jarang perubahan itu membawa keterpurukan, dan menjadi klimaks dari sejarah yang sudah dirintis. Keputusan yang diambil pada situasi demikian adalah sangat kritis.

Semua pihak pasti memiliki cara di dalam menghadapi situasi kritis itu. Dari berbagai referensi dan pengalaman, keputusan yang diambil sebaiknya disesuaikan dengan nilai (values) dan prinsip (principle yang dimiliki. Dengan kedua hal ini seseorang tidak begitu mudah diombang-ambingkan oleh perubahan. Nilai adalah hal-hal baik yang dimiliki seseorang. Itu bersumber dalam diri seseorang, yang tentunya bisa dibangun dan dikembangkan dari pengalaman dan pembelajaran yang terus-menerus. Prinsip adalah hal-hal mendasar yang dimiliki seseorang. Ini bersumber dari keyakinan seseorang, yang dibangun dari pengalaman dan pembelajaran juga.

Kedua hal ini–nilai dan prinsip–sangat membantu di dalam pengambilan keputusan, baik secara rasional maupun secara etis. Bila nilai dan prinsip ini diasah terus, dan digunakan secara proaktif, maka seseorang akan menjadi manusia “merdeka”; tidak bingung dan reaktif terhadap perubahan yang terjadi, apalagi menjadi “bunglon” yang sukanberubah-ubah mengikuti perubahan itu. Sikap seperti ini dikenal secara umum sebagai “tidak memiliki pendirian”. Mungkin satu-dua kejadian dapat menyelamatkan, tetapi tidak dapat seterusnya, pasti akan tersandung juga.

Bila nilai dan prinsip itu dibangun dan diasah terus dengan hal-hal baik, sehingga menjadi terbiasa (habit, pada suatu waktu akan menjadi karakter. Inilah yang membedakan seseorang dengan orang lain. Jangan pernah berpikir menjadi sama atau serupa dengan orang lain. Bila konsisten dilaksanakan, maka kita tidak perlu khawatir terhadap sejarah kehidupan, betapapun lingkungan berubah secara turbulen. ***

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: