Wacana Organisasi Masyarakat Nias Barat

Jakarta – Dewasa ini hangat dibicarakan wadah yang mempersatukan masyarakat Nias Barat, khususnya di Jabodetabek. Bagi penggagas gagasan ini mengemukakan argumentasi bahwa daerah Nias Barat salah satu daerah paling miskin dari daerah otonomi baru di Indonesia. Masyarakat baik di daerah Nias maupun di perantauan memiliki potensi besar akan tetapi belum diorganisasikan dengan baik agar menjadi “kekuatan” mengurangi atau menanggulangi kemiskinan dan keterbelakangan selama ini.

Momentum sekarang ini tepat setelah pelantikan Bupati dan Wakil Bupati (definitif) untuk menyatukan kembali potensi itu. Pada waktu Pemilukada, masing-masing komunitas memiliki preferensi pandangan terhadap pasangan kandidat yang “mumpuni” memimpin Kabupaten Nias Barat. Kita mempromosikan dan mengkampanyekan preferensi itu. Tidak jarang terjadi tarik-menarik, adu strategi, bahkan berwujud kepada “konflik” dan “intrik” diantara para pendukung. Sekarang masyarakat telah menentukan pilihan kepada pasangan tertentu dan pemimpin pemerintah daerah telah dilantik.

Perbedaan, yang mungkin menimbulkan “benturan” saatnya dihentikan. Kita memulai babak baru. Kata HASAMBUA adalah motto dan slogan untuk mencairkan kekakuan dan ketegangan yang terjadi. HASAMBUA dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah “hanya satu”, tidak lain dapat dimaknai adalah tidak ada perbedaan, dikriminasi, dominasi, dll.; yang tua-muda, pria-perempuan, kaya-miskin, adalah semua sama di dalam HASAMBUA.

Pada tataran ini gagasan menghimpun potensi masyarakat merupakan hal yang baik. Dan sudah seharusnya didukung. Akan tetapi bagi sebagian komunitas masyarakat Nias Barat yang kritis, gagasan ini tidak serta merta diterima dan diterjemahkan. Perlu dikaji lebih mendalam agar tidak menjadi kontra-produktif, dalam arti yang terjadi tidak seperti yang diharapkan menjadi HASAMBUA. Jangan sampai membuka luka-lama, yang mesti saatnya diobati.

Beberapa pertanyaan kristis disampaikan, misalnya seberapa “longgar” dan “kuat” wadah atau organisasi ini. Ini nanti bermuara kepada pengaturan, yang oleh publik mengistilahkannya kedalam AD/ART. Longgar dan kuat dalam arti ikatan organisatoris, artinya perlu-tidaknya pengaturan yang tertulis dan formal, apalagi sampai kepada perumusan AD/ART. Bila longgar, pengaturan formal itu kurang begitu bermafaat, sebaliknya bila “kuat”, maka pengaturan itu penting sebagai acuan bersama. Kelonggaran itu dapat ditemukan kepada organisasi kekeluargaan dengan kegiatan “ringan”, seperti arisan, minum-kopi bersama, dan kebaktian. Tidak diperlukan kelengkapan organisasi yang “komplit”, cukup pemimpinan, pencatat dan penyimpan uang. Akan tetapi bila diinginkan organisasi kuat, maka pengaturan AD ART, penataan keanggotaan, pemilihan pengurus dan kelengkapannya, dll.

Belum lagi, bila diperhadapkan dengan ikatan sosial dan budaya yang unik masyarakat Nias Barat, yang berbeda dengan komunitas di daerah lain. Permohonan ijin dan restu dari orang-orang tua, atau akomodasi dan representasi dari kecamatan-kecamatan yang ada, harus dipertimbangkan bila organisasi kuat dan formal yang diharapkan.

Wacana ini mulai mengemuka ketika jajaring sosial melalui Facebook dalam Group Forum Nias Barat, yang memuat dan mengomentari pemikiran (gagasan dan usulan) yang dapat dan perlu dilakukan pemerintah dan masyarakat Nias Barat. Dari diskusi dan interaksi itu diperlukan studi dan kajian mendalam serta wadah yang dapat mewujudkan itu.

Paling tidak 3 pertemuan, yang saya ikuti membicarakan wacana itu. Satu hal dalam pertemuan itu adalah kesepakatan menyelenggarakan seminar dan studi tentang pembangunan di Nias Barat. Satu lagi tentang wadah masih belum mengerucut. Dua pemikiran tentang wadah ini seakan berseberangan secara diameteral. Dan bisa jadi perbedaan pandangan itu, akan mempengaruhi pelaksanaan seminar. Tim (OC dan SC) yang begitu semangat pada awal2 pembicaraan, sekarang mulai redup, paling tidak pemberitaan mulai berkurang.
Terlepas dari wacana di atas, pengamatan saya, untuk membangun wadah seperti itu, hal-hal yang diperhatikan adalah organisasi bersifat informal, memiliki solidarity-maker pada karakter pemimpin dan masing2 kecamatan harus memiliki representasi. Alternatif lain, belum mendesak membentuk suatu wadah organisasi, tetapi cukup entitas sederhana saja, seperti yayasan bila ada keinginanan sekelompok komunitas ingin membantu masyarakat di Nias Barat. Mulai dari keluarga, kampung dan seterusnya. Ini barangkali lebih bermanfaat daripada diskusi panjang, yang kalau tidak ada kapasitas kendali, bisa saja berhenti pada wacana, dalam setiap pembahasan tentang ini. (***)

  1. Tulisan yang baik dan bermanfaat dilevel pemahaman tertentu namun bagi sebagian orang mungkin kurang bisa disimak dgn baik dikarenakan dasar pemahaman keorganisasian yang kurang pas (ilustrasi jika kita bicara internet bagi orang yang hanya bisa mengetik office words di komputer maka akan ada kendala dalam pemahaman).
    Pendapat saya masyarakat kita Nias dalam berbagai wadah organisasi yang ada bisa optimal di level bentuk arisan, STM (serikat tolong menolong) dan kepanitiaan (natal, paskah, retret, PA, Persekutuan doa, HUT, pesta, reuni, pertandingan olah raga, seni dll) dan masih belum ‘sukses’ di level organisasi kader (membekali komunitasnya dengan skill keorganisasian seperti pemahaman organisasi, leadership, teknik berorganisasi dll).

    Berdasarkan kenyataan tersebut (jika saya tidak salah mengamati) adalah sangat besar usaha yang diperlukan untuk sukses kalau masih memimpikan ada organisasi kader yang efektif dalam komunitas masyarakat Nias.Terlalu banyak manusia yang harus digeser mindset agar berada dalam range yang tidak terlalu jauh berbeda. Namun untuk tidak diam dan masih tetap ada sumbangsih buat kampung halaman biarlah wadah yang dimiliki setingkat arisan atau STM tetapi produk wadah ini yang bisa memiliki nilai dan mutu yang bermanfaat banyak. Hal ini bisa terwujud kalau personil yang ada dalam wadah yang tidak ‘keren’ ini memiliki interpretasi yang sama mengenai apa visi dan misi dari organisasi wadah tersebut.

    FNB wacananya kearah bentuk seperti yang diuraikan diatas artinya jika ada dua orang atau lebih yang se-visi misi go ahead for action, Dan sebagaimana kemampuan untuk action orang yang se-visi misi yang ada di wadah tidak ‘wah’ tersebut, itulah yang diusahakan untuk dilaksanakan. Namun FNB tendensi kondisinya, wadah terlanjur ada tapi orangnya masih belum se-visi misi. Alangkah eloknya kalau lebih dahulu orangnya se-vsi misi baru menyatukan diri dalam suatu wadah organisasi. Sukses buat kita semua…

    • Pak Ama Asni, thanks komentar yang mencerahkan. Saya memang tidak bermaksud menggurui, tetapi refleksi saya dari kondisi
      Ak kembali ke topik refleksi sekaligus merespon catatan Anda. Saya setuju organisasi yang mungkin disebut “tidak-keren”, bila ditekuni dan memiliki visi “besar”, pasti akan memberi pengaruh besar. Hanya saja vivi itu tidak ada. Karenanya kegiatan begitu2 saja.
      Demikian juga terhadap FNB, saya sependapat telah terkondisikan membentuk “wadah” tanpa clear maksud dan harapan (istilah lain visi). Padah wadah (organisasi) adalah level ketiga dalam manajemen (setelah visi dan nilai). Ada sedikit kekeliruan kaprah.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: