Dermaga Pelabuhan Sirombu Sebaiknya Dipindah Untuk Mengakselarasi Pembangunan Nias Barat

Jakarta – Topik ini merupakan salah satu topik status ku pada jejaring sosial “facebook” beberapa waktu lalu. Perlu saya jelaskan lebih lanjut topik ini ke dalam “blog” karena keterbatasan jumlah huruf status pada jejaring itu, tetapi juga karena topik ini sangat strategis, bila memimpikan kemajuan daerah (kota) Nias Barat, daerah otonomi, pemekaran baru.

Dermaga pelabuhan merupakan sarana bongkar-muat barang dan komoditi dari pulau ke pulau karena biaya murah dan memiliki volume banyak. Pulau Nias adalah pulau yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera. Kebutuhan Nias–dalam jumlah yang besar–didatangkan dari Sumatera melalui Sibolga, melalui pelayaran. Sebaliknya komoditi Nias, seperti kopra, karet, dll, dibawa ke Sumatera melalui jalur yang sama.

Sampai tahun 80-an, Pulau Nias memiliki 5 pelabuhan “lokal” yang langsung berhubungan dengan Sibolga, yaitu Gunung Sitoli (Nias “induk”), Teluk Dalam (Nias Selatan), Lahewa (Nias Utara), Sirombu (Nias Barat), dan Pulau Tello. Kecuali Sriombu, pelabuhan ini hingga saat ini tetap berfungsi.

Untuk Sirombu, pelabuhan ini tidak berfungsi setelah terjadi kebakaran hebat melanda daerah ini. Para pedagang yang melayani di daerah ini mengalami kerugian sangat besar. Modal untuk melayani perdagangan dalam jumlah besar, yaitu membeli komoditi dan juga barang kebutuhan dari Sibolga dan Medan sangat terbatas. Area perdagangan Sirombu sebelum kebakaran itu, mencapai Omboyu (Kecamatan Amandraya sekarang?), sebelah Selatan, dan
Salonako (Kecamatan Alasa), sebelah utara serta sebelah Timur melayani sebagian besar daerah Mandrehe.

Pada waktu yang hampir bersamaan dengan kebakaran tersebut, infrastruktur (jalan-darat) yang menghubungkan Gunung Sitoli-Sirombu berfungsi baik. Bis antar daerah ini lancar, hampir setiap hari, walau 1-2 trip. Tidak hanya penumpang tetapi juga komoditi. Mobilitas sosial antar daerah berlangsung secara intens. Dengan berfungsinya insfrastruktur ini, komoditi maasyarakat dijual dan ditampung oleh pedagang lokal Gunung Sitoli. Para pedagang ini menjualnya ke Sibolga dan Medan. Dalam kondisi seperti ini, dapat dipahami komoditi dari Nias Barat dibeli dengan “murah” karena melalui pedagang (perantara) di Gunung Sitoli. Demikian juga barang-barang kebutuhan rumah tangga, dijual dengan harga tinggi di Nias Barat. Daya beli masyarakat rendah, sementara harga barang tinggi. Inflasi termasuk tinggi di daerah Nias Barat. Konsekuensinya daerah ini tetap termarginalisasi. Ini bisa dibuktikan ketika terjadi gempa, yang menghancurkan Gunung Sitoli (termasuk daerah lain juga), seluruh Pulau Nias lumpuh total, termasuk kebutuhan pokok.

Untuk memotong mata rantai marginalisasi itu, pemekaran daerah otonomi baru memiliki momentum yang baik. Kabupaten baru dideklarasikan dan diundangkan menjadi Kabupaten Nias Barat. Sejalan dengan itu reaktivasi pelabuhan Sirombu juga dilaksanakan. Dermaga ini rusak pada waktu bencana tektonik, kemudian direnovasi dan dibangun kembali oleh yang dibangun kembali oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias.

Sebelum dermaga ini ada, bongkar-muat muatan kapal dilaksanakan melalui perahu. Kapal-motor berhenti di tengah, dan selanjutnya diangkut ke daratan melalui perahu, dan dimasukkan ke gudang. Dengan adanya dermaga, kapal-motor bisa bersandar, bongkar-muat cepat dan karena itu bisa menekan biaya.

Persoalannya lokasi dermaga itu, yang disebut Pelabuhan Angin, masih memiliki gelombang tinggi, dan tidak ada pengahalang (pulau) yang bisa mengurangi gelombang tersebut. Akibatnya gesekan dan tekanan antara kapal dan dermaga sangat besar. Bila ini berlangsung terus-menerus, kemungkinan dermaga ini rubuh bisa terjadi. Dengan kata lain lokasi dermaga ini tidak memungkinkan kapal bersandar karena gelombang laut.

Upaya untuk memindahkan lokasi sebenarnya sudah dilakukan melalui uji survey di daerah Gawuduho. Akan tetapi tanah di tempat ini hanya pasir, sehingga sulit menanam tiang pancang dermaga. Pemilihan lokasi dermaga adalah kendala untuk membangun dermaga yang kuat dan tahan terhadap gelombang. Bila tidak, bongkar-muat bisa dialihkan sebelum dermaga ada. Dermaga yang ada tetap saja difungsikan, tetapi diperuntukan untuk kapal-motor kecil, mengantar penumpang antar Kepulauan Hinako dan darat Sirombu, sekaligus memperlancar arus kunjungan turis ke Pulau Asu.

Ketika dicoba 2-3 kali kapal-motor bersandar, yang membawa semen langsung dari Padang (pelabuhan Teluk Bayur), selisih harga bila dibeli di Gunung Sitoli terpaut 20.000. Bisa diduga harga jual komoditi juga, seperti kopra, karet, dll, pasti lebih tinggi bila dijual ke Gunung Sitoli karena langsung dibawa ke Sibolga. Revitalisasi dermaga ini sangat penting mendukung kemajuan Nias Barat bersama daerah otonomi baru di daerah Nias pada umumnya. Bila tidak, marginalisasi itu tetap ada. (***)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: