Pernik Deklarasi Perkumpulan Senior GMKI di Makassar

Jakarta – Pada hari Sabtu tanggal 27 November 2010, di dalam Kongres-32 GMKI di Makassar dideklarasikan Perkumpulan Senior GMKI melalui Temu Senior (nasional)–yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 November 2010. Deklarasi ini diikuti pemilihan dan pengangkatan Pengurus Nasional Perkumpulan (disebut Pengurus Peralihan), dikoordinasikan oleh Rekson Silaban, Ketua Umum (Pematang Siantar) dan F. Nefos Daeli, Sekretaris Jenderal (Yogyakarta) bersama-sama dengan fungsionaris lain, yaitu: Ketua: Marim Purba (Bandung), Octolin Hutagalung (Bandung), Alphinus Kambodji (Malang), Edward Tanari (Makassar), Firman Jaya Daeli (Yogyakarta). Sekretaris: Jeirry Sumampow (Jakarta), Yusmic Daniel Foekh (Kupang). Bendahara Umum: Viktor Sirait (Bandung), Bendahara, Christine Hutabarat (Jakarta). Deklarasi dan pembentukan Pengurus Peralihan diangkat dalam Surat Keputusan Kongres ke-32.

Penyelenggaraan Temu Nasional ini, dihadiri oleh 125 orang dari 22 Cabang se tanah air, ditambah seluruh Panitia Nasional Kongres. Para peserta ini sekaligus menjadi Deklarator Perkumpulan Terus. Di dalam penyelenggaraan acara ini, Panitia Persiapan yang dibentuk oleh PP GMKI dilaksanakan dalam semangat kemandirian. Semua pembiayaan ditanggung bersama oleh para peserta. Peserta dikenakan biaya Rp 350 ribu, yaitu Rp 250 ribu untuk biaya penyelenggaraan dan Rp 100 ribu untuk iuran anggota selama 1 tahun. Disamping itu, para peserta menanggung sendiri biaya transportasi (sampai ke lokasi) dan akomodasi. Panitia memberikan informasi selengkapnya akomodasi yang berdekatan dengan tempat acara, dan juga travel pemesanan transportasi. Semangat kemandirian ini agak berbeda dengan penyelenggaraan acara yang sama sebelumnya, dimana para peserta mengharapkan penggalangan dana panitia (lokal) melalui donasi. Perbedaan ini, merupakan langkah awal untuk mengembangkan kemandirian lembaga yang baru ini. Tanpa itu pasti akan menyulitkan perjalanan ke depan.

Jauh daripada itu, di dalam semangat itu, harus juga dikembangkan pengelolaan yang TANGO, yaitu transparan, akuntabel dan tata kelola yang baik (good governance). Tanpa itu, para anggota dan stakeholder agar”malas” untuk membantu pendanaan. Dasar-dasar ini yang antara lain menjadi tugas Pengurus Peralihan. Disebut peralihan, karena mandat terbatas dan masa kerja hanya 1-2 tahun (minimal dan maksimal). Mandat dimaksud adalah konsolidasi (pendataan senior dan komunikasi dengan Forum Senior yang sudah ada di cabang-cabang), penyempurnaan AD/ART (dan aspek legal lainnya) dan penyelenggaraan Pertemuan Raya Senior GMKI (diharapkan dilaksanakan di Jakarta, dalam skala yang “besar”).

Pernik lain dalam penyelenggaraan ini, waktu masuk GMKI beragam lintas generasi (tahun 1960-an sampai tahun 2000-an) dari 22 cabang. Jauh dari kesan formal (persidangan) seperti umumnya pada waktu di GMKI walau diskusi sangat mendalam. Dimenasi spiritual tetap dipelihara, melalui ibadah dan puji-pujian. Dan yang tidak kalah menarik adalah “social evening” bersama dengan peserta Kongres. Atraksi dan penampilan dari cabang-cabang berbaur dengan senior dalam pementasan seni.

Diharapkan bahwa momen ini merupakan awal yang baik. Komitmen dan keseriusan pengurus peralihan serta dukungan dari para senior, apalagi dari GMKI, bisa menjadi pegangan untuk pengembangan lembaga ini ke depan agar lebih efektif. (***)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: