Aku Juga Korban Merapi

Jakarta – Gempa vulkanik Merapi, tidak hanya menimpa warga masyarakat sekitar: Yogyakarta, Magelang, Klaten, Boyolali, tetapi saya juga. Sudah hampir 3 jam menunggu di Bandara Soekarno Hatta, belum juga boarding. Di Desk Lion Gate 6, dipampang tulisan, “karena abu vulkanik gempa Merapi, penerbangan di
Solo ditunda, menunggu kondisi faktual dari Bandara Adi Sumarmo Solo.

Hampir 3 minggu aku tidak pulang. Bolak-balik Jakarta (atau dari daerah lain) ke Solo merupakan agenda bulanan, sejak mendapat tugas di Pelkesi Jakarta. Karena itu, jauh2 hari sudah pesan tiket, supaya bisa mendapatkan harga yang lebih “murah” dan cepat (1 jam), jika naik kereta api (8 jam).

Sejak Gunung Merapi mengeluarkan lava panas dan abu, banyak korban jiwa meninggal, hewan mati, masyarakat mengungsi di posko-posko. Disamping itu abu vulkanik berterbangan melampaui radius “awas” 30 km mengikuti arah dan kecepatan angin.

Setiap waktu diberitakan daerah ini telah menimpa abu vulkanik. Bandara Yogya dan Solo ditutup dari penerbangan. Karena abu sangat beresiko. Bahkan walaupun diumumkan Bandara sudah dibuka oleh Pihak Pengelola, banyak juga meskapai penerbangan yang menunda penerbangan atau mengalihkan ke bandara terdekat: Semarang ataupun Surabaya.

Gempa kemarin (Jumat, 5 Nov) merupakan gempa yang terdahsat sejak gempa itu meletus tanggal 26 Okt lalu. Korban jiwa bertambah. Demikian juga abu menutupi Bandara Adi Sumarmo Solo.

Aku sudah bangun pukul 03.30 untuk mengejar penerbangan pukul 07.30. Sengaja berangkat lebih pagi karena penumpang Lion Air sangat banyak, bisa memakan waktu lama antri pada saat check-in. Keterlambatan bisa fatal; penundaan penerbangan dan dikenakan biaya.

Sekarang sudah 11.30 tanpa ada kejelasan waktu boarding. Kontak dengan Solo, cuaca cerah, tetapi tadi pagi terjadi hujan debu. Bisa jadi bandara tertutupi debu.

Dalam penantian itu, pihak Lion menyediakan makanan dan minuman (air putih). Makanan kotak terdiri dari nasi segenggan, 1 potong udang goreng dan bakwan jagung. Nasinya setengah matang, agak keras. Teman sebelah tidak jadi makan, karena takut nasi itu bereaksi negatif di perutnya.

Jadi tidak salah bila kami (penumpang) penerbangan ini juga adalah korban Merapi. Tetapi lebih ringan penderitaannya, dibandingkan dengan korban di sekitar daerah itu. (***)

  1. Pada waktu mendarat di Solo, langit agak mendung. Berita sebelumnya bahwa tadi jam 07.00 terjadi “hujan-debu” yang menyebabkan penundaan penerbagan tertunda 5 jam; bandara ditutup, agak terprovokasi. Jangan2 roda pesawat agak seret, pasti mengganggu prose pendaratan di lapangan pacu.

    Aku tidak tahu dan tidak mau tahu, apakah pihak pengelola bandara sempat membersihkan lapangan pacu, tetapi yang jelas, pendaratan berjalan mulus.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: