Lagi Bencana Alam

Jakarta – Bencana alam di Indonesia, seperti tidak ada hentinya. Belum tuntas rehabilitasi di satu tempat, bencana alam berikutnya sudah menyusul. Lokasinya seolah-olah urut dari Timur-Tengah-Barat, sepanjang tahun. Bulan lalu, dikejutkan banjir bandang di Wasior (Timur, Papua Barat), minggu ini gempa vulkanis Merapi (Tengah, Yogyakarta), dan sekarang tsunami di Mentawai (Barat, Sumatera Barat).

Begitu banyak korban jiwa yang direnggut, sebagian diantaranya dinyatakan “hilang”, apalagi harta benda. Bagi daerah yang akses transportasi mudah, seperti di Yogyakarta, bantuan datang cepat. Tetapi yang terpencil dan di kepulauan, seperti di Wasior dan Mentawai, bantuan sangat lambat. Karena itu korban di daerah ini, dari hari ke hari terus bertambah, karena terlambat penanganan dan pengiriman bantuan.

Bagi NGO, termasuk yang memiliki mandat untuk bencana alam, tidak begitu mudah untuk mengirimkan bantuan relawan ataupun logistik karena dana yang sangat terbatas. Hampir semua NGO dalam rancangan anggaran tahunan belum memasukan kegiatan penangan bencana ini, sebagai anggaran rutin. Sebab bencana alam tidak dapat diprediksi. Kalau pun ada yang berangkat karena NGO itu memiliki dana cadangan. Bagi yang tidak punya–dan umumnya NGO demikian– konsolidasi penggalangan dana menjadi kendala utama.

Bagi NGO yang berada dalam jaringan atau aliansi, lebih sulit lagi, karena konsolidasi harus dikembangkan kepada koordinasi dan komunikasi sesama anggota. Tidak jarang koordinasi ini sangat mengganggu, dan pengiriman bantuan jadi terhambat karenanya.

Ada baiknya harus dikembangkan kebijakan dan strategi, bagi NGO yang sudah siap (pendanaan, tenaga dan logistik) untuk segera berangkat. Bisa bersama-sama dengan mengoptimalkan sumber daya, atau sendiri-sendiri. Koordinasi dilaksanakan di lapangan.

Karena pengiriman tim perdana–yang disebut Tim Perintis–disamping untuk memberi bantuan, tetapi juga dimanfaatkan untuk assessment (kebutuhan dan tempat), serta membangun jaringan dengan masyarakat dan pemerintah lokal, jika diputuskan dilanjutkan atau tidak. Assessment kebutuhan dan data ini, berguna untuk fund raising.

Para aktivis NGO jangan menunggu informasi dan data dari tim pendahuluan NGO lain, sebab masing memiliki fokus berbeda. Disamping, kadang datangnya terlambat. Cepat tanggap darurat, kata yang pas untuk itu. Sangat berbeda dengan kegiatan normal, yang koordinasi, semuanya diselesaikan di “belakang-meja” (***)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: