Menjelajah Sebagian Wilayah Jatim, Liburan

Naik Tangga Menuju Puncak

Malang – Liburan semester ini, kita pergi mengunjungi tempat-tempat wisatu. Kali ini memilih daerah Jawa Timur, sekitar Malang dan Bromo. Bawa kendaraan sendiri ke daerah itu. Disamping hemat tetapi juga memudahkan mobilitas pergi kesana-kemari.

Di Malang kita mengunjungi Selecta, Jatim Park dan air terjun. Rencana ke Agro Wisata, perkebunan apel, tetapi pada kunjungan ini sedang tidak musim. Daun tanaman apel berguguran dan buah tidak ada. Terpaksa rencana ini dibatalkan.

Kolam Renang Selecta

Pemandangan Selecta Batu Malang

Tinggal di rumah penduduk, yang disebut sebagai villa, cukup murah di daerah Batu. Bisa masak sendiri, ada fasilitas air panas, dan TV. Pertandingan World Cup tidak ketinggalan menemani setiap malam. Update info dari kantor tetap jalan juga, karena jaringan mobile phone yang baik dan gadget BB. Email dan chatting tetap fungsional selama liburan ini. Jadi pekerjaan yang mendesak dan penting dapat segera diselesaikan.

Setelah Malang, kita berkesempatan mengunjungi Bromo melihat terbit matahari (sun rise). Tengah malam berangkat dari Malang, tiba subuh di bagian bawah lereng Gunung Bromo. Setelah nego sewa mobil mengantar ke puncak gunung, akhirnya berangkat menuju kesitu. Dingin dan ramai sekali. Diperkirakan mobil yang kesana tidak kurang 100 unit, padahal area puncak tidak begitu luas. Lahan parkir terbatas dan pengunjung berlimpah, berdesak-desakan. sambil menanti detik-detik terbit matahari, disebelah kanan juga melihat kawah Gunung Bromo, yang ditutupi awan. Matahari terbit, gunung membentang, cakrawala menyapa merupakan pemandangan indah. Luar biasa ciptaan Tuhan.

Melanjutkan perjalanan melihat kawah kaldera (kawah) Gunung Tengger. Pada hamparan lereng gunung ini, dipenuhi pasir sangat luas. Untuk mencapai kawah sepanjang ± 3 km, dapat ditempuh dengan jalan kaki atau naik kuda. Tiba di lereng gunung, selanjutnya menaiki tangga. Konon katanya walau sudah dihitung, anak tangga ini berubah jumlahnya. Dalam kunjungan ibi, jumlah 251 anak-tangga. Teman saya sebelumnya menyebutkan 215. Itu sudah cukup bukti bahwa hitungan tangga ini, penuh misteri.

Tidak semua ke puncak karena sebagian pernah kesana. Hanya anak-anak. Kita menyewa kuda. Disamping alasan di atas tetapi penduduk penunggang kuda yang menawarkan jasa, kesannya adalah sumber pendapatan. Padahal penduduk disini kelihatannya polos dan jauh dari standar hidup. Motif berbagi akhirnya menjadi pertimbangan utama untuk menerima jasa tersebut. Besaran sewa berbeda, harus pintar2 menawar. Pada pintu masuk sudah berjejer orang menawarkan jasa, yang kelihatannya sudah terorganisasi dengan baik. Berjalan beberapa meter ke dalam, ada juga yang menawarkan jasa yang jauh lebih murah. Mungkin tidak tergabung dalam organisasi pada kelompok yang menawarkan pertama. Ini adalah kelemahan penawaran jasa ini. Bila diorganisasikan dalam bentuk koperasi, standar biaya yang jelas, kenyamanan pengunjung bisa lebih terjamin.

Matahari beranjak naik, panas mulai memanas dan yang dikunjungi juga sudah selesai, kita kembali ke persinggahan awal di lereng gunung, dan melanjutkan perjalanan pulang menuju Surabaya. Disinilah akhir perjalanan dalam liburan ini. (***)

  1. Nice…🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: