Orang Nias Mencari Jodoh: Ditimang-timang?

Jakarta – Sahabat saya di kampung, meminta pendapat terhadap anaknya (perempuan) bila melanjutkan kuliah di Yogya. Dia tahu, saya tinggal dan sekolah disana sejak SMA. Keinginan itu harus diapresiasi karena jarang orang tua memiliki keinginan (visi) seperti itu. Sebab orang tua di Nias, sebagian berpendapat perempuan tidak perlu sekolah “tinggi-tinggi”, karena toh nanti kalau sudah menikah, ikut suami. “Biarlah suami (dan keluarga) yang “mengurus” kesejahteraan dan masa depan”, pikirnya. Kalau sudah menjadi ibu rumah tangga, kesibukan lebih banyak untuk domestik. Itu yang diasumsikan sebagai perempuan yang baik pada umumnya. Akan tetapi sahabat saya ini tidak demikian. Dia memiliki pikiran modern dan berpandangan jauh ke depan, sekaligus menjadi simbol status sosial.

Saya tidak langsung menyampaikan pendapat atas permintaan tersebut. Saya memilih menantang dengan pertanyaan provokatif, yaitu apakah bisa menerima bila puterinya memperoleh kekasih (bahkan suami) di luar orang Nias. Dia agak sedikit bingung dengan pertanyaan itu. Gagasan dibalik tantangan itu adalah pengalaman dan pengamatan terhadap orang-orang Nias (sebagian), baik yang kuliah maupun yang tidak, tidak terkecuali laki-laki, selalu mengharapkan agar “mendapatkan” orang Nias juga. Tidak jarang, harapan ini begitu kuat dan keras, sampai menimbulkan persoalan dalam keluarga besar. Demikian juga bagi yang bersangkutan, menimbulkan frustrasi dan putus asa.

Alasan yang umum digunakan adalah bila mendapatkan orang Nias, telah mengenali kehidupan sosial dan budaya (baca: adat-istiadat), sehingga keluarga besar dapat cepat bersosialisasi dengan “mantu”. Demikian sebaliknya. Sebaliknya bila orang-luar, walaupun sudah diberi pemahaman, hasilnya pasti berbeda.

Peluang mendapatkan jodoh di luar Nias sangat besar, bila berada di perantauan. Interaksi sosial, pertemuan yang sering, menjadikan benih kesukaan bersemi. Teknologi jejaring sosial, seperti facebook, twitter, hp (mobile phone) cukup mendukung persemaian itu. Tayangan multi media sarana lain yang mendukung. Tidak mungkin, seseorang membatasi dan membetengi diri terhadap situasi seperti ini. Karena itu tantangan yang disampaikan kepada sahabat saya, mestinya memperluas wawasan dan ketajaman visi yang ada.

Belum lagi bila diperhadapkan dengan beberapa kasus, orang Nias yang berjodoh dengan orang Nias, kurang begitu “smooth”. Sebaliknya ada juga di laur orang Nias, yang dapat hidup harmonis, walau berbeda budaya. Kondisi ini lebih diperparah lagi, bila diperhadapkan dengan biaya-pernikahan yang relatif tinggi bila dengan orang awak sendiri. Itu sebabnya banyak juga pria yang menjadi ciut hati bila berkehendak mendapatkan sesama suku sendiri.

Kayaknya percampuran jodoh ini tidak dapat dihindari. Karena itu budaya (baca: adat-istiadat) harus dapat merespon dengan baik. Bila tidak, kegamangan bila menghadapi kondisi percampuran itu, pasti terjadi. Lagi-lagi yang menjadi “korban” adalah anak dan saudara, bahkan keluarga sendiri. (***)

    • YASMAN GULO
    • June 30th, 2010

    Menurut pengamatan saya pak Daeli, orang Nias memenikah dengan diluar sukunya disebabkan berbagai alasan yaitu: jujuran/mahar yang tinggi. Dan orang Nias yang menikah atau cari pasangan hidup, hanyah pelarian karena alasan di atas. Gadis Nias dinomorduakan dalam keluarga dahulu, seperti yang anda paparkan di atas. Karena istilah kita bahwa seakan2 perempuan Nias itu kalau menikah seperti dijual. Alasannya ialah pihak paman, saudara, ibu, ayah dan sanak mendapatkan sebagian dari mahar itu. Nah, disini fungsi agama tidak berlaku lagi tetapi adat-istiadat yang ditonjolkan. Ini menyimpang dari agama? yah, tergantung pihak terkaitlah. Tapi kalau kita compare dengan keyakinan lain/suku lain, sangat jauh berbeda. Yang terpenting sekarang bagaimana kita terapkan dalam keluarga kita, sanak saudara. Yang bagus kita terima, yang menyimpang kita perbaiki. Siapa lagi yang memperbiki Nias kalau bukan kita.

    • Bung Yasman,

      Terima kasih telah merespon pengamatan dan pengalaman saya terhadap upaya membangun “masa-depan” pemuda dan gadis Nias.

      Secara umum saya setuju pandangan, bahwa kendala umum orang Nias, sebagian nikah atau mendapatkan pasangan di “luar Nias” karena mahalnya biaya (baca: jujuran) yang secara budaya, adat itu turun-temurun kepada generasi kita sekarang ini.

      Kesan, ketika pria meminang gadis Nias, seperti “dijual” dengan membayarkan sejumlah uang (transaksi) kepada pihak keluarga mempelai perempuan: orang tua, paman, kampung bahkan gereja, tidak bisa dihindari. Tetapi secara substansial kesan ini tidak tepat. Sebab kalau kita mendalami, filosofi “transaksi” dibalik itu, sangat dalam maknanya.Hanya saja karena kondisi sosial-ekonomi, filosofi dan substansi itu bergeser kepada “membayar” atau memberikan sejumlah uang.

      Yang harus dipikirkan ke depan adalah jangan sampai filosofi itu bergeser kepada makna “penjualan” pada tataran praktis. Sebab banyak juga saya lihat, bahwa uang yang dibayarkan tidak juga mahal-mahal amat, bila dirundingkan dengan baik. Dengan memberikan penjelasan dan negosiasi antara kedua belah pihak, biaya bisa turun drastis, sekedar keperluan pada hari H. Kemampuan dan ketrampilan negosiasi dan pengertian para pihak sangat diperlukan.

      Bila perundingan dan pemahaman seperti itu dilaksanakan, pemberian makna lain dalam perspektif theologis (isitilah yang Anda gunakan “agama”) mungkin tidak akan terjadi. Seolah-olah pernikahan di Nias (yang menggunakan budaya seperti itu) penyimpangan dari agama.

      Memang harus dikaji lagi, bila gadis Nias nikah, “kepemilikan” kepada orang tua dan keluarga besarnya menjadi hilang, dan berpindah kepada mempelai pria. Sebab menurut saya, hanya “pergeseran” status. Hubungan emosioal, kekeluargaan, bahkan tanggung jawab juga tidak menjadi hilang karenanya.

      Kajian-kajian ini harus kita dalami. Disini diperlukan pencerahan kepada orang tua kita. Bahkan kalau perlu diundangkan dalam bentuk Fondarako, sehingga ini menjadi acuan bersama. (***)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: