Obat Generik?

Dua hari berturut-turut–hari ini dan kemarin–Harian Kompas menempatkan harga obat sebagai head-line berita, disamping isu Pansus Century yang memasuki babak akhir. Kompas menyebutkan walaupun Menteri Kesehatan telah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan penggunaan obat generik kepada pasien yang dirawat di RS Pemerintah (RSUD, Puskesmas, dll), tetapi kenyataannya tidak banyak yang mengikuti. Para dokter dan RS masih banyak yang menggunakan obat bermerk dan patent.

Akibatnya pembiayaan orang yang berobat atau dirawat di RS menjadi tinggi (mahal). Peraturan itu sebenarnya dimaksudkan untuk menjawab tantangan kemahalan tersebut.

Para pakar dan pemerhati pembiayaan kesehatan mengungkapkan bahwa ketentuan itu tidak berjalan efektif karena tidak didukung ketentuan lain, seperti sanksi bila tidak menggunakan, ketersediaan obat generik di RS pemerintah, mengapa hanya ditujukan di RS pemerintah saja–yang mestinya berlaku untuk semua, termasuk RS swasta.

Disamping itu, dan ini mungkin yang belum disebutkan para pemerhati, bahwa peran dokter (dan manajemen RS) sangat menentukan. Bukan rahasia umum, godaan dan bujukan dari para detailmen pabrik obat, yang mempromosikan produk, dengan berbagai insentif, sangat menentukan. “Godaan” ini sering kali lebih kuat dorongannya ketimbang semangat kemanusiaan. Disamping itu, kesadaran pasien untuk menanyakan hak-hak, termasuk jenis obat yang diresepkan. Pasien (dan keluarganya), mestinya diberdayakan untuk bertanya obat yang diresepkan, dan meminta agar diberikan obat generik.

Lebih daripada itu, yang tidak kalah pentingnya adalah opini masyarakat, bahwa obat generik yang murah itu adalah murahan dan tidak bermutu. Ini juga yang mendorong pasien untuk meminta obat seperti itu.

Untuk itu diperlukan upaya yang serius dan sungguh-sungguh agar penggunaan obat generik lebih banyak lagi pada waktu mendatang. Kebijakan pemerintah, kesadaran masyarakat, regulasi pabrik obat, dan RS, harus bekerja sama untuk mengoptimalkan penggunaan obat tesebut. Dengan demikian, pembiayaan kesehatan dapat ditekan, dan dapat dialokasikan kepada yang lain untuk mengurangi kemiskinan. (***).

  • Trackback are closed
  • Comments (0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: