Blunder: Pengumuman CPNS Nias Barat

Jakarta – Pengumuman seleksi CPNS Kabupaten Nias Barat mengalami persoalan. Pada waktu pengumuman, ditemukan nomor dan nama peserta seleksi tidak sama. Jumlahnya relatif banyak sekitar 116 orang dari 421 orang yang diterima. Memang sebagian besar, nama dan nomor bersesuaian, tetapi yang 116 orang menimbulkan keresahan.

Memang ada pengumuman lanjutan dari Bupati Nias Barat, yang merujuk pada surat Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), yang ditunjuk oleh Pemda Nias Barat untuk menyelenggarakan ujian dan seleksi CPNS itu, bahwa yang benar sebagai patokan adalah nama peserta. Berarti masih ada 58 orang lagi, yang sebenarnya berhak juga karena sudah diumumkan, walau hanya nomor ujian tes seleksi.

Opini yang berkembang bahwa ujian CPNS ini harus diulang karena masalah-masalah tersebut. Bila diulang, maka tentunya bagi yang lulus, yaitu nomor dan ujian bersesuaian pasti memberikan protes keras, disamping pembiayaan yang besar lagi. Bila diperkecil lagi yaitu ujian ulang ditujukan kepada yang nomor dan nama tidak bersesuaian, dengan asumsi bahwa pengumuman yang memuat nama atau nomor dianulir, juga tetap mebimbulkan keberatan juga. Kecuali misalnya, kesalahan atau kelalaian datang dari peserta, mungkin usulan pemabatalan dapat dimengerti. Jadi blunder ini tidak pas juga ditimpakan kepada peserta (dan atau keluarga dan masyarakat).

Pihak yang paling bertanggung jawab adalah Pemda dan PNJ sebagai aktor pada seleksi ini, bukan kepada peserta. Tidak tepat bila dikorbankan peserta. Karena itu solusi yang disarankan adalah semuanya tetap dikomodasi, tetapi penerbitan SK menunggu waktu. Sementara yang belum di SK mengikuti magang dulu di Kantor Pemerintah Daerah. Bila ada formasi berikutnya, yang magang ini mendapat prioritas utama untuk direkrut lagi.

Persoalan seperti ini mestinya tidak terjadi bila perencanaan rekrutmen dipersiapakan dengan baik. khususnya pada waktu pendaftaran. Ketegasan persyaratan administrasi dan pengisian formulir hingga pada saat tes harus ditegakkan. Tidak diberi peluang kepada “markus”, yaitu makelar kasus ujian. Tidak ada api kalau tidak ada asap. Hubungan kekeluargaan, pertemanan apalagi “ucapan terima kasih” yang diberikan di depan, telah mendorong “dugaan” masyarakat, ada rekayasa dalam penerimaan ini. Walau dugaan ini dibantah keras oleh Pemda, khususnya Bupati. Disebutkan bahwa puteranya sendiri tidak diterima. Karena itu mestinya yang lain juga memahami hal itu (***).

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: