Pelayanan Kesehatan dan Penyembuhan: Studi Kasus

JAKARTA – Sengaja memilih kasus pasien terminal dalam merefleksikan relevansi pelaksanaan konsep pelayanan kesehatan dan penyembuhan holistik di RS Kristen di Indonesia. Pada penyakit lain—yang juga banyak ditemukan di RS—dimensi pelayanan kesehatan dan penyembuhan holistik ini kurang begitu kelihatan.  Waktu perawatan yang kurang begitu lama, biaya yang relatif rendah dan perhatian civitas hospitalia serta kemampuan-terbaik tenaga medis belum dirasakan. Pelayanan kesehatan—pengobatan dan perawatan—seperti hal yang rutin, walaupun sebenarnya sudah sesuai standard operating procedure (SOP).

Berbeda halnya dengan kasus-kasus terminal, penyakit yang diderita bersifat akut, dan proses pengobatan dan perawatan berlangsung dalam waktu yang lama di RS dengan biaya yang cukup besar, disamping upaya lain seperti pengobatan alternatif. Penderita penyakit akut ini sering dijumpai di RS, dan termasuk 3 besar penyebab kematian di Indonesia. Penyakit ini terjadi karena faktor risiko tinggi, seperti kanker, stroke, HIIV, thalasemia, dan lain-lain, dan lain-lain.

Pada pasien ini, solidaritas dan empati keluarga, jemaat dan tetangga serta civitas hospitalia (health profesional) sangat terasa. Kunjungan, penguatan dan pendampingan diberikan luar biasa. Teman dan tetangga menggalang dana untuk meringankan biaya. Para dokter dan perawat berusaha memberikan kemapuan terbaik untuk kesembuhan. Pujian, doa dan penyembahan kepada Tuhan selalu dilaksanakan. Kadang-kadang mujijat terjadi, dan memang diimani pasien dan keluarga, sukacita dan kebahagiaan diperoleh. Dan kalau pun tidak, kepasrahan kepada Tuhan selalu mewarnai proses perawatan dan pendampingan.

Rasa penyesalan atas penyakit yang diderita karena sikap dan perilaku masa lalu, walau tidak kait-mengkait dengan penyakit yang diderita,  sangat ‘membebani’ dan menghantui pasien. Berbagai inisiatif dilaksanakan; saling memaafkan dan mengampuni serta mendoakan. Penguatan secara spiritual sangat diperlukan seperti ini; memberi semangat hidup.  Disamping dirasakan bahwa “waktu sudah dekat”, tetapi juga dimaksudkan untuk mengurangi perasaan bersalah pada masa lalu.

Dari kasus di depan, dirasakan bahwa pelayanan kesehatan terhadap pasien-terminal tidak hanya difokuskan kepada pengobatan dan perawatan, tetapi juga dimensi lain kemanusiaan pasien secara utuh. Dukungan dan perhatian dari kerabat dan komunitas (sosial) sangat penting. Dengan itu, pasien tetap menjadi bagian dalam komunitas itu. Penggalangan dana merupakan salah satu wujud dari dukungan dan perhatian, untuk mengurangi beban ekonomi pasien dan keluarga. Rasa penyesalan, doa, pujian dan penyembahan meneguhkan iman-percaya, bahwa manusia sebagai ciptaan tetap berharga dalam kasih-Nya dan tetap bekerja dalam proses perawatan tersebut. Kepasrahan terhadap kuasa Allah tetap bekerja pada setiap insan.

GEREJA, RS (KLINIK) DAN KESEHATAN

Dari sejarah pekabaran Injil di Indonesia, pelayanan kesehatan dan pendidikan, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tugas misionaris. Tugas itu dilanjutkan oleh gereja-gereja hingga sekarang ini. Untuk mengorganisasikan tugas itu, gereja membentuk lembaga atau organisasi yang yang secara khusus menangani pelayanan kesehatan dan sekaligus menjadi badan-hukum (legal-entity) pengelolaan pelayanan kesehatan, dimaksudkan agar pelayanan kesehatan yang diorganisasikan gereja menjadi efektif.

Kemudian lembaga atau organisasi ini menata struktur berdasarkan pengelompok kegiatan-kegiatan (grouping).  Di dalam struktur itu, didapatkan bagian yang melaksanakan fungsi pelayanan internal RS (intra-mural) dan eksternal RS (extra-mural). Pelayanan internal bersifat individual; konsultasi, pengobatan, perawatan dan rehabilitasi secara personal, baik melibatkan keluarga atau tidak. Sedangkan eksternal bersifat komunal; pemberdayaan, pencegahan, promosi dan advokasi kesehatan. Khusus advokasi perlu mendapat penekanan, karena pelayanan kesehatan merupakan hak dasar individu dan seharusnya negara bertanggung jawab terhadap hal itu. Akan tetapi kebijakan pemerintah belum menempatkan kesehatan sebagai  arus-utama (mainstreaming issues) dalam kebijakan publik.

Dari penataan itu, dikenal bagian-bagian struktur pelayanan kesehatan di dalam RS. Untuk fisik dilaksanakan oleh pelayanan medis dan perawatan. Review keberadaan pasien, keluarga dan komunitas dilakukan oleh sosio-medik; pendampingan spiritualitas dilaksanakan oleh pastoral-konseling. Sedangkan untuk pelayanan eksternal, dilaksanakan oleh bagian community development, dengan kegiatan yang berorientasi pada pengembangan kesehatan masyarakat. Bagian-bagian ini bergerak bersama-sama sebagai Tim untuk menangani pasien terminal maupun pasien lainnya. Hanya saja pada pasien terminal ini, upaya masing-masing bagian ini lebih dirasakan, dibandingkan penanganan dan perawatan penyakit lain.

Walaupun demikian, RS (dan klinik) yang dimiliki atau berafiliasi dengan gereja, memiliki tingkat perkembangan berbeda pada masing-masing wilayah atau daerah karena kelemahan kepemimpinan dan manajemen, keterbatasan tenaga kesehatan, dan infra-struktur yang kurang memadai. Bahkan beberapa klinik yang dirintis dan dikelola misionaris ditutup karena faktor-faktor tersebut. Efisiensi dan efektifitas serta keberlanjutan pelayanan menjadi pertimbangan utama.

Dalam situasi seperti itu, gereja harus tetap melaksanakan pelayanan kesehatan sebagai tugas diakonia dari tugas dan panggilan gereja. Gereja memiliki alasan yang kuat untuk melayani di bidang kesehatan. Hal ini bisa dilihat pada Alkitab (Keluaran 15:26, Markus 10:45, Matius 4:23 dan 9:35, Kisah Para Rasul pasal 3 dan 4). Justru dalam gerejalah penyembuhan secara Kristen (Christian healing) dapat dinyatakan, kabar kesukaan disampaikan dan kasih Kristus didemonstrasikan. Dengan demikian, pelayanan kesehatan yang dilaksanakan gereja tidak terbatas pada kelembagaan (“dinding”) RS, tetapi juga dalam hal-hal yang kelihatannya paling sederhana tetapi memiliki makna mendalam, seperti perkunjungan dan syafaat bagi pasien dan keluarga, menjadi relawan (volunteer) pelayan pelayanan kesehatan: mencuci pakaian, membersihkan lantai dan membersihkan rumput pekarangan; menggalang sejumlah dana yang dapat digunakan untuk penderita pasien.

LESSON LEARNT

Pelayanan kesehatan dan penyembuhan holistik yang dilaksanakan gereja-gereja melalui RS (ataupun klinik) harus mencakup seluruh dimensi keutuhan manusia, yaitu fisik, sosial, ekonomi, dan mental-spiritual. Ini nyata sekali bila melihat kasus untuk pasien terminal. Seluruh upaya diberikan kepada pasien dan keluarga. Penyembuhan holistik ini pun sejalan dengan keadaan sosial dan budaya di Indonesia. Tingkat kekerabatan komunitas cukup tinggi; empati dan solidaritas tetap melekat dalam masyarakat. Hal ini bisa ditandai dari kunjungan selama dalam proses perawatan, apalagi di daerah-daerah. Komunitas memberikan yang terbaik untuk meringankan penderitaan pasien; tidak hanya pada kasus terminal, tetapi juga kasus penyakit lain.

Demikian juga gereja (dan jemaat), tidak hanya yang memiliki lembaga (legal-entity) yang secara khusus mengorganisasikan pelayanan, seperti RS dan klinik, tetapi juga yang tidak, upaya-upaya melaksanakan pelayanan itu sebagai tugas diakonia juga dilaksanakan. Kunjungan pastoral jemaat, doa, pujian dan penyembahan dilaksanakan jemaat. Walaupun demikian keterlibatan ini harus ditingkatkan. Jemaat-jemaat dapat menjadi agen (promotor) kesehatan, baik di lingkungan jemaat maupun masyarakat, melalaui sikap dan perilaku kesehatan, seperti mandi dan membersihkan diri, cuci tangan sebelum makan, membuang sampah di tempat yang disediakan, tidak merokok, dan menjaga sanitasi dan lingkungan rumah dan pekarangan serta memakan makanan bergizi, yang tidak harus mahal.

Namun demikian, perlu mendapat perhatian, review dan studi thologia dan kesehatan masih sangat terbatas. Keterbatasan ini kadang-kadang menyulitkan gereja-gereja mengaktualisasikan dan mengkontekstualkan keterlibatan dalam pelayanan dan penyembuhan holistik itu dengan perkembangan penyakit dewasa ini. Kunjungan dan pendampingan pastoral dirasakan “kering” dan hanya bersifat normatif. Dengan rujukan dan referensi yang memadai tentang ini, pelayanan kesehatan tidak hanya berorientasi kepada penyembuhan terhadap penyakit saja, tetapi harus diarahkan kepada peningkatan kualitas hidup.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian itu, kecenderungan strukturisasi pelayanan kesehatan kepada bagian kegiatan pelayanan, seperti pelayanan medik, sosio-medik, pastoral konseling dan pengembangan kesehatan masyarakat (community development), sebagai implikasi penerapan menajemen modern di RS, bisa menempatkan bagian-kegiatan itu terkotak-kotak, bahkan mungkin berjalan sendiri-sendiri. Personil pada bagian yang satu, tidak menjiwai semangat bagian yang lain sebagai kesatuan pelayanan dan penyembuhan holisitk, bahkan superioritas profesi terhadap profesi lain dapat menganggu implementasi konsep tersebut.

Keadaan ini lebih mengkhawatikan lagi, dengan memperhatikan kecenderungan penyediaan pelayanan kesehatan dewasa ini sebagai industri “jasa”. Kalau pun cakupan dimensi pelayanan mencakup seolah-olah penyembuhan holistik itu, tetapi bukan didorong oleh semangat “melayani” sebagaimana yang dilakukan Tuhan Yesus, tetapi strategi manajemen, yaitu kepuasan dan meningkatkan loyalitas pelanggan (customer satisfaction and rentention). Karena itu pelayanan kesehatan dan penyembuhan holistik diarahkan kepada ucapan syukur kepada Tuhan, karena pasien merasakan kesembuhan dan juga pihak-pihak yang terlibat dalam proses karena telah membagi dan menjadi saluran berkat karunia Tuhan. Upaya ini tidak menanti pasien menjadi terminal (seperti pada kasus ini) tetapi berlaku pada kondisi apapun: berat atau ringan penyakit yang diderita. Dengan demikian sungguh-sungguh terjadi apa yang dialami orang lumpuh yang mendapatkan kesembuhan Rasul Petrus karena kuasa Allah (Kisah Para Rasul  3:8): “… Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.” (***)

  • Trackback are closed
  • Comments (0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: