MENTALITAS MASYARAKAT NIAS TIDAK KONDUSIF ?

Dalam beberapa diskusi dengan kawan-kawan kelompok (komunitas) Nias, disebutkan bahwa masyarakat Nias belum kondusif, supportive dan responsif terhadap pembangunan. Beberapa indikasi disebutkan, antara lain tidak berbagi sumber daya, misalkan iuran atau tenaga tanpa bayar bila ada kegiatan pembangunan di desa (wujud swadaya); atau cenderung merusak, bila tidak mendapatkan “bagian” dari kegiatan demikian.

Secara sederhana subyek pembangunan dalam pengalaman sehari-hari adalah pemerintah dan masyarakat. Dalam masyarakat didapatkan pelaku lain, seperi NGO (non governmental organization) dan swasta (pedagang), dan komunitas atau kelompok. Para subyek ini memiliki mekanisme dan standar sendiri. Yang lebih banyak diungkapkan dalam diskusi ini adalah masyarakat dalam kategori komunitas atau kelompok.

Pengalaman kawan-kawan mestinya tidak boleh digeneralisasi, termasuk komunitas dan kelompok itu. Saya memiliki pengalaman berbeda terhadap kategori ini, yang berakhir happy, bahkan berkesinambungan (sustainable). Pada waktu terjadi gempa di Nias tahun 2004, terjadi kesulitan mendapatkan sembako di seluruh Pulau Nias, karena pusat perdagangan, Gunung Sitoli lumpuh total. Karena itu PELKESI memfasilitasi pembelian dan didistribusikan di 5 kecamatan, yaitu Mendrehe, Sirombu, Amandraya, Lolowa’u dan Lolomatua. Seluruh keluarga di kecamatan itu mendapatkan 25 kg beras dalam paket sembako lainnya, seperti gula, minyak kelapa, gula dan teh. Distribusi ini dilaksanakan sebanyak 2 periode.

Pembelian dilakukan oleh PELKESI di Sibolga. Sedangkan distribusi oleh masyarakat dengan merekrut 3 orang di masing-masing desa sebagai bagian tim dalam manajemen distribusi (supervisor). Masa tugas tim dari desa ini hanya 2-3 hari. Kepada mereka diberi insentif dan uang transpor untuk hari-kerja itu. Respon masyarakat baik, artinya tidak ada yang complaint. Dengan kata lain tim bekerja baik, tidak koruptif, penipuan, atau kekacauan pada waktu distribusi.

Kesimpulan dari pengalaman ini adalah apapun inovasi atau kegiatan pembangunan, bila direncanakan dengan baik secara partisipatoris, sistem organisasi yang baik, melibatkan masyarakat, monitoring dan dokumentasi yang baik, hasilnya baik pula. Kunci lain dari success story distribusi itu adalah perancangan anggaran: insentif dan transpor diperhitungkan. Bila tidak, tim ini akan mencari sumber lain untuk menutupinya. Yang paling dekat adalah memotong jatah beras keluarga. Perhitungan ini yang jarang dilihat oleh aktor-aktor inovatif dalam pembangunan. ***

  • Trackback are closed
  • Comments (0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: