Tantangan Gereja Terhadap Pelayanan Kesehatan

Pelayananan Kesehatan di Indonesia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah pekabaran Injil yang dibawa para misionaris. Pelayanan lain, yaitu pendidikan. Kedua pelayanan ini berjalan beriringan dalam kegiatan-kegiatan pekabaran Injil. Disamping sebagai bagian dari tugas gereja –bersaksi, bersekutu dan melayani, tetapi juga menjadi langkah awal (entry point) bagi tugas gereja lainnya, memperkenalkan kabar sukacita, yaitu penyelamatan Allah atas dunia dan alam semesta.

Bentuk pelayanan kesehatan itu dimulai dari klinik-bergerak (mobile clinic), balai pengobatan (atau balai kesejahteraan ibu dan anan atau rumah bersalin), selanjutnya menjadi rumah sakit (RS). Dewasa ini, dari sisi pengelolaan, pelayanan kesehatan dibedakan: dikelola sendiri dan atau para profesional. Badan pengelola diidentifikasi: menyatu dengan badan gereja atau alat kelengkapan organisasi (struktur) gereja, perhimpunan, yayasan, atau perseroan terbatas.

Dalam sejarahnya, pelayanan kesehatan (lembaga dan individu) berhimpun bersama dalam persekutuan pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (Pelkesi). RS Kristen yang berhimpun dalam Pekesi adalah 68 unit (Direktori dan Profil Pelkesi, tahun 2002) tersebar di seluruh nusantara. Dari sisi keanggotaan Pelkesi, RS merupakan unit terbanyak dan sebagian besar diantara unit ini memiliki sub-unit jaringan, yaitu balai kesehatan, balai kesehatan masyarakat, balai kesejahteraan ibu dan anak, institusi pendidikan, dan pengembangan kesehatan masyarakat. RS-RS Kristen memiliki posisi penting dan strategis dalam pelayanan gereja, bukan hanya jumlah unit yang banyak, tetapi juga karena menjadi rujukan bagi sub-unit.

RS Kristen di Indonesia memiliki sejarah dan tradisi gereja beragam yang kuat, namun bergerak dari titik tolak yang sama, yaitu Alkitab yang menyaksikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat yang penuh Kasih dan Tabib Agung. Dalam mengenjawatahkan titik tolak ini, konsep Pelayanan RS Kristen berorientasi kepada pelayanan sosial (karitas). Akan tetapi perkembangan lingkungan eksternal –jasa dan produksi berorientasi kepada pasar– pelayanan kesehatan menjadi komoditi (industri) jasa. Konsep pelayanan kesehatan bergeser dari orientasi sosial kepada bisnis. Beberapa insitusi pelayanan kesehatan, termasuk RS-RS Kristen mencoba berjalan pada ”orientasi tengah: sosial-bisnis” agar tetap bertahan dan berkembang, yaitu setia kepada sejarah (visi dan misi) gerejawi akan tetapi juga mengikuti mekanisme pasar.

Namun demikian disadari sepenuhnya bahwa potensi tergelincir pada orientasi bisnis ini bagi institusi yang berorientasi ”tengah” sangat besar. Keterbatasan sumber daya dan tekanan lingkungan eksternal yang demikian kuat menjadi pemicu hal itu terjadi. Sebaliknya bila tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut, potensi RS Kristen menjadi stagnan, bahkan bangkrut (tutup) bukan juga suatu keniscayaan.

Dialektika itu menimbulkan pertanyaan bagi eksistensi dan identitas RS Kristen. Apakah masih ada ”keunikan” yang membedakannya dengan RS-RS bukan-Kristen. Tentunya keunikan ini bukan hanya pada pada hal-hal yang bersifatnya normatif peribadatan saja, tetapi yang mampu menjiawai seluruh proses pelayanan kesehatan yang disediakan RS-RS Kristen. Bila ada, maka perlu dirumuskan dan operasionalkan dengan penuh komitmen. Sebaliknya, bila tidak, pelayanan kesehatan RS-RS Kristen hanya mozaik sejarah yang hanya dapat dikenang.

Situasi kesehatan di Indonesia, walaupun sudah banyak kemajuan yang dicapai, belum menggembirakan, paling tidak bila dibandingkan dengan negara tetangga ASEAN. Ketika usaha-usaha untuk meningkatkan derajad kesehatan dilaksanakan, muncul kasus-kasus ’baru, seperti demam berdarah, flu burung, dan penyakit yang disebabkan lingkungan (fisik). Keadaan kesehatan masyarakat pada tahun 2006 ditemukan angka kematian bayi dan anak-anak adalah 45 per angka kelahiran, angka kematian ibu melahirkan (persalinan) 307 per 100.000 persalinan, gizi buruk 19.30%, TB 76,230 kasus, HIV 2,552 orang, dimana 1,016 menderita penyakit AIDS, rata-rata angka harapan hidup adalah 67.97 per tahun, and rata-rata penyakit jiwa (mental meningkat menjadi 20% per 1000 penduduk. Status gizi buruk masih dijumpai pada anak-anak balita (BGM) tahun 2000, berjumlah 7,53%, tahun 2002 meningkat menjadi 8 %, untuk balita bergizi kurang (BGT) tahun 2000 berjumlah17,13 %, sedangkan tahun 2002 meningkat menjadi 19,30% ( Sumber DEPKES RI tahun 2004 ).

Keadaan diatas diperparah dengan ancaman flu burung yang merebak dari anak-anak sampai orang dewasa ( sejak Juli 2005 sampai 8 Maret 2006 terdapat 380 kasus ). Dengan demikian gambaran epidemiologis rata-rata di Indonesia  sesuai dengan angka perilaku hidup sehat keluarga  kategori 4 di tahun 2002 sebesar 11,4%, dan ditargetkan pada tahun 2010 menjadi 65%. Di sisi lain umur harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat rata-rata 67,97 tahun. Hal ini memungkinkan kecendrungan meningkatnya penyakit degeneratif, disamping penyakit infeksi yang terus berkembang. Berdasarkan gambaran di atas Pelkesi masih melihat bahwa program PKP masih tetap menjadi program  primadona. Sehingga sangat dibutuhkan kinerja serta kualitas dari unit pelayanan kesehatan sebagai center of exellent yang akan menunjang program berbasiskan masyarakat (PKP).

Keadaan ini disebabkan pembangunan kesehatan di Indonesia belum menyeluruh; lintas sektoral, disamping keterbatasan dana dari APBN yang dialokasikan untuk sektor ini terbatas. Ini tidak hanya disebabkan kebijakan pemerintah tetapi juga kebijakan globalisasi, termasuk perusahaan multi nasional (multi national cooperation). Ketidak-adilan telah mendorong pelayanan dan penyediaan kesehatan menjadi komoditi (jasa) industri. Akses dan keterjangkauan (biaya) mendapatkan layanan kesehatan yang bermutu, jauh dari harapan masyarakat miskin.

Sebagian dari para penderita tersebut, diduga adalah warga jemaat (data tidak ada). Tentunya banyak faktor penyebabnya. Disamping bakteri, virus dan faktor risiko lainnya, tetapi juga wabah yang terjadi di suatu wilayah (daerah). Yang tidak kalah penting, faktor sikap, perilaku, bahkan mungkin cara pandang terhadap penyakit tersebut. Sikapa dan perilaku, misalnya pola hidup bersih dan sehat, makanan bergizi, olah raga, air dan sanitasi, dll. Cara pandang terhadap penyakit juga, sebagian diartikan bila “tidak bisa berbuat apa-apa”, artinya selama masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari, seseorang “belum-sakit”. Padahal pada kondisi “tidak bisa berbuat apa-apa”, mungkin para profesional kesehatan tidak bisa berbuat apa-apa.

Bila jemaat sakit, menimbulkan banyak persoalan, baik itu pada diri penderita, keluarga, juga pada kehidupan berjemaat. Kemana harus berobat, siapa yang menggantikan fungsi dan tugas penderita, siapa yang menanggung biaya adalah pertanyaan-pertanyaan kritis, yang sebaiknya ditanggapi para pimpinan dan aktivis gereja. Apalagi bila jemaat, jauh dari sarana pelayanan kesehatan (pedesaan atau pedalaman), seperti Puskesmas, RS, dengan paralatan dan fasilitas kesehatan yang cukup memadai.

Tugas dan peran gereja dalam pelayanan kesehaan, tentunya kurang memadai bila diartikan dengan hanya memiliki sarana pelayanan kesehatan (RS/BP/RS/BKIA), apalagi bila sarana ini tidak memiliki alat yang memadai sesuai standar akreditasi dan kemajuan ilmu, pengetahuan dan tekonologi kedokteran, SDM terbatas, pengelolaan yang kurang profesional. Tidak cukup juga bila menyelenggarakan pengobatan melalui klinik-bergerak, sekali dalam periode waktu tertentu (semingguan atau bulanan), apalagi kalau jangka waktu lebih lama (misalnya, tahunan). Gereja perlu merumuskan tugas dan peran strategis, mengoptimalkan pelayanan diakonia di bidang kesehatan. Pertanyaan-pertanyaan reflektif terhadap tugas dan peran strategis itu, antara lain: (i) Apa tanggung jawab Gereja terhadap masalah-masalah masyarakat, khususnya di sektor kesehatan kesehatan di Indonesia? (ii) Bagaimana mengoptimalkan fungsi dan peran sarana pelayanan kesehatan Kristen untuk melayani masyarakat dan memuliakan Tuhan, secara profesional, akuntabel, tranparan dan terjangkau (affordable)? (iii) Bagaimana mengoptimalkan derajad kesehatan jemaat? ***)

  • Trackback are closed
  • Comments (0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: