MODEL JUAL-BELI TANAH DI PANTAI SIROMBU

Jakarta – Pemekaran Kabupaten Nias Barat dan pelantikan Bupati yang memimpin dan mengepalai kabupaten ini, telah mendorong pembangunan dan penataan di berbagai sektor. Salah satu sektor itu adalah perekonomian dan pariwisata.

Pantai Sirombu di sore hari

Salah satu pendukung kemajuan suatu daerah adalah pelabuhan, dan kelihatannya Pemda dan masyarakat menyadari hal itu. Secara historis pelabuhan Sirombu merupakan salah satu dari 5 (lima) pelabuhan di Pulau Nias yang menggerakaan perekonomian di daerah ini. Pelabuhan lain adalah Gunung sitoli (Nias Induk), Teluk Dalam (Nias Selatan), Lahewa (Nias Utara) dan Pulau Telo (Nias Selatan). Pelabuhan ini melayani pelayaran langsung dan bongkar muat dari Sibolga (Sumatera) – Nias. Kebutuhan, barang dan material dibawa langsung dari Sibolga dan komoditi (mentah), seperti karet, kopra, cengkeh, dan lain-lain diangkut ke Sibolga melalui pelabuhan ini. Akan tetapi pada tahun 80-an ketika infrastruktur jalan yang semakin baik antara Sirombu-Gunung Sitoli, kebakaran Pasar Sirombu dan bencana alam, menyebabkan pelabuhan ini tidak berfungsi sebagaimana yang disebutkan diatas.  Kebutuhan masyarakat dan pengiriman komoditi, praktis dilaksanakan di Gunung Sitoli. Pelabuhan Sirombu hanya melayani pelayaran ke Kepulauan Hinako, dan sebagian lagi para pelancong (tourist) ke Pulau Asu serta para nelayan penangkap ikan.

Demikian juga keindahan pantai juga menakjubkan. Pemandangan deru ombak, Pulau Si’ite dan Lawanda langsung berhadapan pandangan jika memandang jauh dari pantai ini. Indah-nya matahari terbit dan matahari terbenam semakin melengkapi nuansa wisata pantai. Kondisi ini menjadi salah satu potensi perekonomian pada waktu mendatang. Keadaan ini sudah mulai nampak, ketika Ama Abe mulai berani membuka warung makan di Hogogara, kunjungan wisata-lokal cukup tinggi, khususnya pada hari Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya. Juga mulai dirintis penginapan, seperti homestay, semakin melengkapi inftrastruktur terhadap potensi tesebut.

Karena itu, beberapa pemilik modal (dari luar Kecamatan Sirombu; wilayah pantai ini) mulai berdatangan dengan membeli lahan dan tanah strategis di pinggir pantai ini. Tentunya ini menggembirakan karena mendukung perekonomian tersebut, dan juga pada jangka pendek bagi pemilik tanah. Tetapi menjadi persoalan pada jangka menengah dan jangka panjang adalah pengalihan kepemilikan ini akan menjadi persoalan di kemudian hari. Penduduk asli di daerah ini (sekitar pantai) yang tadinya pemilik lahan, akan bergeser perannya menjadi “penonton” terhadap tanah ini. Fenomena ini juga dihadapi daerah-derah lain yang mengandalkan pariwisata sebagai pemicu kegiatan ekonomi.

Karena itu harus disadari sejak awal persoalan ini. Penjualan atau pengalihan kepemilikan tanah bukan solusi terbaik dari upaya mendorong perekonomian di daerah ini. Pada suatu waktu akan menimbulkan persoalan sosial “baru” di daerah ini. Alternatif-nya adalah “bagi hasil” atau sewa pada jangka waktu tertentu atau “share-saham”. Alternatif ini memungkinkan pemilik modal untung dan resistensi sosial rendah pada jangka menengah dan panjang, dan masyarakat tidak akan menjadi “penonton” di daerah sendiri pada waktu mendatang. (***)


  • Trackback are closed
  • Comments (0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: