Kekayaan Laut Indonesia Dapat Menghidupi Seluruh Rakyat Indonesia, Kata Supir Taxi Express

Jakarta – Ini disebutkan Supir Taxi Express dalam perjalanan, mengantar saya, dari RS Cikini menuju Bandara Soekarno Hatta sore ini. Dia (sayang namanya tidak sempat diberitahu) secara serius mengomentari situasi dan kondisi di Indonesia, dimana jumlah angka kemiskinan relatif tinggi.

Lebih lanjut dikatakan, ini baru perikanan, apalagi kalau kekayaan lain, seperti emas, nikel, tembaga, besi, batubara, diperhitungkan juga. Indonesia pasti hidup lebih berkecukupan dibandingkan negara-negara lain, ketika pak Supir membandingkan Indonesia dengan negara lain.

Dalam perjalanan itu, kami terlibat percakapan ringan, tetapi serius. Saya tidak menduga beliau memiliki referensi memadai mengomentari itu. Saya menduga dia salah seorang “tokoh” di lingkungannya. Gaya bicara yang retorik, pasti mampu menggerakkan orang (baca pengikut).

Dia mengomentari mengapa negara lain maju, karena ahlinya banyak. Mestinya Indonesia bisa demikian, akan tetapi kenapa yang terjadi sebaliknya, dia bertanya. Coba lihat pohon-pohon yang ditanam sepanjang jalan. “Ada manfaatnya gak?” “Kan lebih baik kalau ditanami tanaman produktif, seperti mangga, rambutan, dll. Disamping bisa tempat berteduh, dan menahan (dan mencegah) kerusakan lingkungan, bisa juga dimanfaatkan untuk kebutuhan buah-buahan. Malah sekarang kita mengimport dari luar.

Secara khusus, mengomentari juga tentang kendaraan dan kemacetan di Jakarta. Setiap hari kendaraan bertambah, tetapi jalan tidak bertambah. Bis-bis “lama” tetap saja dioperasikan. Ini semua menambah kemacetan Jakarta. Dan membuat perjalanan tidak nyaman.

Dari komentar-komentar itu, aku sadar, bahwa kondisi masyarakat kita juga dirasakan masyarakat “kecil”, seperti pak Supir ini. Kondisinya dari tahun ke tahun tidak menunjukan perubahan berarti, walau disebutkan secara makro, banyak perbaikan menurut versi pemerintah.

Pak Supir ini sudah 35 tahun hidup di Jakarta. Asal dari Kudus, dan secara periodik berkunjung ke kampung halaman, karena Ibunda masih disana, sehat dan energik. Masih suka ke pasar, yang tidak jarang menimbulkan kekhawatiran bagi mereka (anak2 dan keluarga). Padahal sang Bunda tetap segar-bugar.

Masyarakat kritis terhadap kondisi sekarang. Bila tidak ada usaha serius perbaikan, akan menimbulkan frustrasi sosial. (***)

Indonesia merupakan Negara Ranking ke-5 Penemuan Kasus Baru TBC, setelah India, China, South Africa dan Nigeria

Jakarta – Tantangan penyakit TBC Indonesia sangat berat. Walau kecenderungan penurunan jumlah kasus baru dan kesembuhan, tetapi banyak ditemukan resistensi terhadap obat yang diberikan.

Kesadaran masyarakat tentang kehidupan yang sehat dan bersih, tetapi juga informasi yang tepat tentang pengobatan gratis penyakit dengan DOTS, sangat mempengaruhi keterlambatan penyembuhan penyakit ini.

Indonesia merupakan urutan ke-5 dari dunia penemuan kasus TBC baru (data tahun 2009). Bila tidak ada usaha serius, maka penularan kepada jumlah yang lebih besar, kemungkinan bisa terjadi. Karena itu, pengobatan yang dilaksanakan sekarang ini harus diintensifkan. Yang tidak kalah penting adalah disiplin penderita (yang didampingi dengan PMO, pengawas minum obat). Penyakit ini pasti dapat disembuhkan. (***)

Jumpa Teman Atmoko, mantan Kecab Surabaya Setelah Hampir 20 Tahun Berpisah

Teman lama dari SurabataYogyakarta – Di Kantor Pusat UGM Yogyakarta, aku bertemu dengan Atmoko, mantan Ketua GMKI Cabang Surabaya. Kami tidak pernah jumpa setelah periode kepengurusan berakhir. Terakhir kami jumpa ketika Kongres GMKI diselenggarakan di Bandung dan Jayapura.

Read more

Exposure Konsultansi Mitra EED di Indonesia yang diselenggarakan di Desa Wiladeg Kabupaten Gunung Kidul

Gunung Kidul – Salah satu agenda dalam Konsultansi Mitra EED di Indonesia adalah exposure ke desa, belajar dan sharing experience tentang Otonomi Desa, Pluralisme, Gender dan Peningkatan Pendapatan di tengah pengaruh Globalisasi.

Read more

Suasana Wellcome Opening Konsultasi Mitra EED Jerman-Indonesia di Kaliurang Yogyakarta

Yogyakarta – Untuk ke-4 kali, diselenggarakan Konsultasi antara EED dan Mitra di Indonesia. Konsultasi ini dilaksanakan sekali dalam 2 tahun. Konsultasi pertama dilaksanakan di Bogor (host Pelkesi), kedua di Makassar (host Yayasan Mateppe), ketiga di Brastagi (host Yayasan Ate Keleng), dan keempat di Kaliurang Yogyakarta (host Yayasan Sheep Indonesia. Konsultasi yang sekarang ini berlangsung dari tanggal 13-17 Maret 2011, mengambil Topik Bahasan: Impact Assessment dan Membangun Kemitraan Strategis. Dari EED Jerman dihadiri oleh Knaus, Ulrike, Silva, dan Robert. Mitra di Indonesia yang hadir 15 lembaga (terdiri dari board dan eksekutif). ***

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 133 other followers