Salam

Nefos Crop 1Yaahowu. Waktu bergerak demikian cepat. Banyak hal dilakukan dan terjadi: spontan ataupun terencana. Sayang kalau berlalu begitu saja; tidak ada pembelajaran dari kejadian itu. Hasilnya belum selalu baik,memang ataupun memberi hasil segera, tetapi bila ditekuni, pasti diperoleh perbaikan dan perubahan. Perubahan besar, diperoleh dari perubahan kecil.

Read more

Foto Civitas GMKI dan Senior pada Deklarasi Forum Alumni Cipayung pada tanggal 25 Jan 2012

image

Mengapa: Les Privat (Bimbingan Belajar)

Jakarta – Sistem pendidikan dewasa ini, siswa dituntut belajar mandiri. Waktu belajar di kelas (tatap muka) dengan guru sangat terbatas karena mata pelajaran begitu banyak dan buku pelajaran (silabus) juga sangat tebal. Belum lagi setiap mata pelajaran (referensi) memiliki beberapa buku juga.

Dalam tatap muka, guru hanya memaparkan pokok-pokok silabus. Kemudian mendorong siswa untuk mendalami di rumah dalam bentuk pekerjaan rumah (PR). Tidak jarang siswa mengalami kesulitan untuk mendalami. Ditambah “godaan” nonton TV, game online atau membuka situs jejaring sosial. Siswa mengalami tekanan dan berakhir pada penundaan pengerjaan “PR”. Besoknya sudah menanti pelajaran baru. Begitu seterusnya keadaan bila tidak upaya lain yang dilakukan orang tua.

Orang tua tidak bisa berbuat banyak membantu atau meringankan tekanan demikian. Pekerjaan di kantor menumpuk, waktu tempuh rumah-kantor yang lama; berangkat pagi, pulang malam. Waktu orang tua mendampingi anak belajar tidak cukup. Belum lagi bila pengetahuan orang tua juga pas-pasan. Metoda pengerjaan soal pada waktu dulu sekolah, sekarang beragam dan mengalami perubahan. Karena itu kesulitan dan tekanan kepada anak belajar(siswa) tidak banyak berubah.

Dalam situasi begitu, diperlukan bantuan dari “luar” yang dapat mendampingi anak belajar, sekaligus memberi solusi terhadap soal pelajaran yang tidak dimengerti. PR dan pendalaman materi dapat dikerjakan melalui bantuan ini.

Bantuan ini disebut les privat atau bimbingan belajar (disingkat bimbel/privat). (***)

Hari Terakhir Kerja

Jakarta – Hari ini adalah hari terakhir kerja tahun 2011. Semua karyawan dan staf libur Dan sekaligus menghabiskan cuti tahun 2011 bagi karyawan yang memiliki hak, yaitu satu tahun telah bekerja di Pelkesi. Bagi yang belum tetap masuk di luar waktu libur bersama.

Read more

Presentasi Proposal Penanggulangan TB

Bogor – Direktorat TB Kemenkes RI sebagai authorized Principal Recipient Dana Hibah Global Fund (GF) mengajaka organisasi masyarakat sipil (civil society organization) mengambil bagian dalam penanggulangan TB di Indonesia.

Kasus TB di Indonesia relatif tinggi yang berasosiasi dengan kemiskinan dan pendidikan rendah. Itulah sebabnya Global Fund mengambil bagian untuk menurunkan kasus ini, bersama dengan penyakit lainnya, yaitu malaria dan HIV AIDS. Tiga penyakit yang disupport pendanaannya untuk ditanggulangi dikenal dengan nama ATM (AIDS, TB dan Malaria).

Read more

Field Oversight Visit CCM di Sulawesi Tengah

image

Palu – Salah satu kegiatan Country Coordinating Mechanism (CCM)–yang dibentuk Indonesia dalam mengkoordinasikan dan memfasilitasi dana hibah dari Global Fund–adalah kunjungan ke daerah yang mendapatkan bantuan tersebut (FOV-Field Oversight Visit). Seluruh anggota CCM melaksanakan itu. Kami mendapatkan tugas di daerah Sulawesi Tengah dengan komposisi Tim yaitu Russell Vogel (USAID), Dr. Emil Tjitra (Balitbang Kemkes/TWG-technical working group Malaria), Masrul Huda (UIN Hidayatullah/TWG TB) dan Nefos Daeli (PGI/TWG AIDS).

Global Fund adalah lembaga internasional yang membantu pendanaan pemberantasan dan penanggulangan 3 penyakit ‘besar’ yang melanda negara berkembang, yaitu HIV AIDS, Malaria dan TB. Salah satu negara penerima dana tersebut adalah Indonesia. Untuk mengkoordinasikan pendanaan itu, pemerintah membentuk CCM, terdiri dari pemerintah (lintas departemen) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Untuk LSM terdiri dari organisasi dan komunitas: organisasi profesi, asosiasi, organisasi berbasis iman, komunitas penderita. Saya mewakili gereja di Indonesia (PGI).

Penerima dana hibah ini adalah pemerintah dan LSM atau organisasi kemasyarakatan. Penerima dana disebut Principals Recipient (PR). Struktur dibawahnya adalah Sub-Recipient (SR), Sub-sub-Recipient dan Unit Pelayanan (health facilities). Sekarang ini dana hibah ini telah berlangsung 10 putaran (round).

Di Palu, Tim mendapat kesempatan bertemu dengan Wakil Gubernur (Ketua Harian Komite Penanggulangan AIDS Provinsi), Kepala Dinas Kesehatan staf, khususnya pengelola dan pelaksana ketiga program di lapangan (provinsi dan kabupaten Donggala). Kami juga bertemu dengan Manajemen RS Undata yang mengkoordinasikan pelaksanaan Klinik VCT dan perawatan pasien AIDS. Komunitas masyarakat juga bertemu dengan Isaiah, NU, PKBI dan komunitas risiko tinggal di eks lokalisasi Tondo.

Kami mendapat kesempatan berdiskusi dan berupaya menunukkan solusi dari masalah dan hambatan yang diperlukan di lapangan. Secara umum pelaksanaan program ini berjalan baik dan mendapat respon dari pemerintah. Bahkan pemerintah (Provinsi dan Kabupaten) menyisihkan sebagian APBD untuk membantu pendanaan program ini untuk lokasi atau item kegiatan yang belum terjangkau. Akan tetapi karena APBD sangat rendah dibandingakan daerah lain, terasa bahwa tiba program masih sangat terbatas. Sebagai contoh untuk klinik VCT hanya ada di Donggala dan Palu. Perawatan dan rujukan ARV hanya ada di RS Undata (Palu), padahal daerah ini memiliki wilayah yang sangat luas. Fasilitasi dan infrastruktur sangat terbatas. Untuk daerah tertentu menuju ke Palu harus ditempuh dalam 1-2 hari. Tentunya upaya pengobatan dan perawatan sangat terlambat. Peru juga diapresiasi respon masyarakat sangat tinggi. Untuk Pos Malaria Desa (posmaldes) dengan kegiatan pembagian kelambu sangat dibantu ole masyarakat. Mereka sangat merasakan kelambu itu. Kasus penyakit malaria menurun tajam. (***)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers